Selasa, 29 Maret 2011

Senyum Ucap Syukur

Pagi ini saya melihat senyum indah dari seorang bapak penjual lem serbaguna di lampu merah Ragunan. Senyumnya mengembang tatkala ada yang membeli lem yang ia jual.Dan saya melihat secara langsung,karena sang pembeli itu berada satu angkot dengan saya. Senyum bapak tersebut saya interpretasikan sebagai seyum penuh rasa syukur. Senyumnya yang mengembang tanpa ironi,dan hanya terisi ketulusan. Hingga saya menulis cerita ini,senyum bapak tersebut belum lekang dari ingatan. Beranjak dari angkot yang saya naiki, Bapak itu pun lekas mencari calon pembeli lainnya,dan apa yang saya lihat bapak tersebut mendapatkan 2 pembeli baru lainnya di seberang jalan lainnya. Padahal pada saat itu banyak pedagang yang menjual barang yang sama. Namun saya menyadari ikhtiar bapak tersebut memang sedikit lebih besar dibandingkn pedagang lainnya yang hanya menawarkan di sepanjang trotoar saja. Sedangkan bapak tersebut menawarkan hingga ke jalanan yang pada saat itu sedang macet. Dalam kemacetan saat itu,saya menyimpulkan bahwa rizki setiap orang telah Allah tentukan, akan tetapi tergatung terhadap bagaimana kita menjemput rizki-Nya. Dan rasa syukur yang terus kita panjatkan bisa menjadi cara untuk memudahkan jalan kita dalam menjemput rizki-Nya. InsyaAllah.

2 komentar: