Tampilkan postingan dengan label my thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my thoughts. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2016

NO TIPPING bukan berarti NO PUNGLI

Selamat hari senin, semuanya!

Saya mau berbagi pengalaman pertama mengurus cargo di bandara. Hari sabtu kemarin, saya mendapat amanah dari kakak saya untuk mengambil barang-barangnya sebanyak 16 koli di Cargo Garuda. Saya benar-benar awam mengenai hal ini, begitupun suami saya. Akhirnya berbekal dari google, saya menghubungi contact center Cargo Garuda untuk menanyakan lokasi pengambilan barang di Bandara Soekarno Hatta. Bagi yang belum tahu, saya share ya lokasinya, yaitu arah terminal 3, setelah bunderan batu belok kiri, kemudian ada tulisan terminal cargo dan melewati terowongan kemudian belok kiri lagi. Setelah itu, ikuti sign yang ada, dan lokasinya tepat di sisi kiri bersebelahan dengan kantor pos Indonesia. Adapun lokasi customer service Cargo Garuda berada di gudang 510. Semoga cukup jelas ya.

Lanjut lagi yaa...

Nah, karena barang yang diangkut cukup banyak, akhirnya kami memesan GO-BOX. Ihhh...i really appreciated it. Fast response pisan. Ini yang disebut inovatif, ketika inovasi tersebut sangat mudah diaplikasikan. Jujur saja, saya pertama kali menggunakan fitur dari Go-Jek. Biaya yang harus dikeluarkan juga sudah sangat jelas di awal, jadi klik order apabila user menerima biaya yang tercantum. Akhirnya, kami (saya,suami dan baby ihsaan) kopdar sama mamang GO-BOX di area cargo garuda. Oohh...langkah selanjutnya apa ya? Saya mencoba melihat hiruk pikuk yang ada disitu. Okay, langkah pertama adalah antri di loket yang bertuliskan 'CARGO GARUDA' untuk mendapatkan Delivery Order a.k.a DO yang kemudian kita mengantri kembali ke kasir untuk membayar sejumlah biaya (doc charge, sewa gudang, dll). Ow ow...suami tidak membawa uang cash dalam jumlah banyak, karena tidak tersedia layanan gesek atau menggunakan debit card.

Hmm...pergilah suami saya ke ATM di dekat situ sembari membeli sarapan untuk saya (buru-buru jadi ga sempet sarapan deh). Akhirnya ketika dibayarkan disebut 381.700, saya berikan uang 400 ribu dan diberi kembali 17ribu, ada yang keliru menghitung uang kembalian sepertinya. Tapi saya tidak heran, karena bapak yang mengantri di depan saya juga diminta uang 15 ribu padahal tertera pada dokumennya 13ribu sekian. Nominalnya memang sangat kecil, hanya sekitar 1-2ribu yang apabila dikalikan 100 transaksi dalam sehari hanya akan diperoleh 1-2 ratus ribu, lain halnya ya kalau dikali 30 hari dalam sebulan. Tapi, sangat disayangkan keberkahan mencari  rizki yang halal harus ternodai hanya karena uang recehan. Semoga memang mas-mas yang di loket kasir itu hanya keliru menghitung kembalian ya, semoga. Aamiin.

Setelah soal bayar-membayar selesai. Kami pergi ke bagian pergudangan dan menyerahkan lembaran lembaran berwarna putih dari dokumen DO ke bagian gudang dan menunjukkan lembaran biru ke sekuriti pada saat meninggalkan area cargo. Setelah barang-barang selesai diangkut ke dalam mobil box, seseorang dari bagian gudang "mepet" terus memberi sinyal kepada suami untuk memberi uang tip, suami mengeluarkan uang sebesar 10 ribu, setelah itu seorang porter berseloroh, "Pak, saya pak porter." Lalu, saya yang menimpali, "bukannya NO TIPPING." dengan nada datar. Si porter pun menyengir malu lalu pergi dari hadapan kami. Ternyata hal tersebut tidak memundurkan niat sang sekuriti. Karena sekuriti terus berkicau "mepet' kami juga. Setelah kami pamit pergi, suami pun menitipkan sedikit untuk sang sekuriti. Hmm.. rasa nggak enak kali ya pak suami dengan pak sekuriti. Ternyata setelah pak suami check in di foursquare, banyak testimoni yang muncul dan highlightnya adalah "Prepare for ilegal fee". Ho hi ho...

Semoga semua bisa lebih profesional ya, bagi si penyedia jasa maupun si pengguna jasa. Hal ini diawali dengan rasa ga enakan yang berujung pada kebiasaan menerima bagi si penyedia jasa, jadi kalau ga nerima "uang lebih" berasa ga afdol gitu. Hmmm..nanti pas sekalinya ada yang ga ngasih, si penyedia jasa ngerasa ga ikhlas. Hmmm...yuuk ah profesional. NO TIPPING bener-bener NO TIPPING. :)

Selasa, 05 Januari 2016

Kita adalah Ibu

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering melihat foto-foto di Instagram dengan hashtag #SAHMlife atau #SAHM. Saya berpikir keras, “Hmm….itu maksudnya apa ya?” agak kepo sih ya, kalo LOL kan Loud of Laugh gitu ya, suatu singkatan yang sudah common dan rata-rata orang tahu maksudnya. Hingga akhirnya saya membaca suatu artikel di internet tentang bahasan SAHM, WAHM dan Working Mom. I got the idea!
Ternyata SAHM itu singkatan dari Stay at Home Mom, dan saya menduga kuat WAHM adalah singkatan dari Working at Home Mom, kalau begitu mungkin saya bisa dibilang kategori WAHM. Monggo di like fanpage-nya ya buibu lapak dagangan saya #lol Qeana Kids dan follow Instagram @Qeana_kids juga #teuteupjualan. Hehe..
Entah siapa yang pertama kali memunculkan istilah-istilah tersebut, namun saya berpendapat bahwa pengelompokan ibu-ibu atas suatu pilihan dalam hidupnya hanya akan memperkeruh suasana. Hmm…agak lebay kali ya menyatakan seperti itu, tapi ya saya menyatakan seperti itu karena beberapa kali banyak ibu-ibu yang beradu mulut tentang status ibu pekerja yang dianggap lalai terhadap anak, namun ketika ibu-ibu yang memilih untuk tinggal di rumah mengurus anaknya seharian mengkategorikan sebagai Full Time Mother (FTM), working mom tidak terima karena merasa ibu-ibu tersebut juga sepenuh waktu menjadi ibu, maka dari itu lahirlah istilah SAHM. Daan ternyata tidak lepas dari itu, ketika ibu-ibu yang memilih tinggal di rumah tetap saja menghabiskan waktu selain untuk mengurus anak, ibu-ibu tersebut tidak lagi dikategorikan SAHM melainkan WAHM. Hmmm…cukup membingungkan bukan singkatan-singkatan tersebut? Padahal semuanya sama yaitu IBU.
Tidak banyak saya temui, anak yang diurus langsung oleh ibunya tetap berprilaku buruk sedangkan anak yang diurus oleh ibu pekerja tetap dapat berprestasi dengan baik. Pada intinya, saya beranggapan bahwa keberhasilan seorang anak ditentukan oleh sejauhmana Ibu mempersiapkan anak dengan membekali sejumlah pertahanan agar tidak mudah terbawa arus oleh zaman dan terpengaruh oleh lingkungan. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh ibu yang terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu agar bisa menyuntikkan banyak hal-hal positif kepada anak. Intinya, hanya teko yang berisi yang dapat menuangkan air ke dalam cangkir, saya menganalogikan teko sebagai ibu dan cangkir sebagai anak. Tentunya, agar cangkir terus terisi, teko pun harus tetap terisi. Jadi, intinya Ibu itu harus terus ON UPDATERnya sama kayak aplikasi hehe….
Saya dan suami pernah mendiskusikan perihal ini, kami berpendapat bahwa keputusan suatu rumah tangga yang melahirkan kondisi seorang Ibu menjadi ibu pekerja atau tidak adalah buah dari keputusan yang dihasilkan dari dua kepala (suami dan istri). Jadi, intinya konsekuensi akan keputusan tersebut sudah dipikirkan dengan matang. Hukum positif ya alias husnudzanya sama orang. Hihihi…

Apapun pilihannya, tetaplah kita saling mendukung satu sama lain, tetaplah saling mencerahkan satu sama lain. Dan tetaplah UPGRADE diri sebagai ibu. Lahirkan versi  yang lebih baik pada anak kita karena anak adalah investasi dunia akhirat.


#selfreminder #ODOPday2

Senin, 04 Januari 2016

Gak sayang sama gelarnya?

I predict that the title of this post will be the question of the year.

Alhamdulillah setelah 3 tahun berkutat dengan permasteran, akhirnya awal november yang lalu dapat tanggal lulus di tesis yang sudah dijilid. Tapi dengan segunung kegiatan di akhir pekan, alhasil sampai dengan postingan ini dibuat saya belum bisa urus urus lagi untuk SKL , daftar wisuda & ijazah. Suami bilang nanti aja yang penting udah lulus. Hmmm...dianggurin hampir 2 bulan.

Kesibukan jadi ibu baru dan jalanin bisnis online cukup menjauhkan dari pikiran untuk apply kerja lagi. Karena memang saya sendiri sudah membuang jauh pikiran untuk kerja kantoran. Alasannya saya tidak ingin jauh dengan ihsaan. Saya belum terbayang untuk meninggalkan ihsaan di rumah dan menitipkan ihsaan pada orang lain dalam waktu lebih dari 1 jam. Maka dari itu, saya hanya terpikirkan untuk mengembangkan usaha saya. Dan ketika saya meminta pinjaman modal pada suami, tanggapan dia adalah saya diminta untuk membuat business plan lengkap dengan analisis keuangannya juga. Ya, intinya selayaknya business plan pada umumnya. Huhuhu....rasanya saya ingin menangis keras. Kok perhitungan banget sih sama istri. Ketika saya menimpali dengan kalimat itu, komentar suami saya sangat singkat namun makcleb "apa ga sayang gelar MM-nya? Ini saatnya pembuktian ilmu kamu bisa bermanfaat apa engga."

Saya akhirnya terdiam dan berpikir, "benar, ini adalah waktunya untuk upgrade diri. Bisnis yang baik adalah bisnis yang terencana. ". Dengan waktu yang tersisa 4 hari lagi, peer saya masih banyak banget. Kalau saya mundur menyerahkan BP ini maka suntikan  modal yang dijanjikan akan berkurang nominalnya. Huhuhuhu...

Bloggers, doakan saya ya!

Rabu, 25 Juni 2014

Kembali Positif



Ada hal yang kurang baik yang harus saya ubah secepatnya, yaitu berhenti menafsirkan. Seringkali ketakutan dan kekhawatiran timbul pada diri saya karena saya menafsirkan berlebihan. Seperti pada saat akan bimbingan dosesn, deg-degannya bukan main. Nada yang salah ketika membaca sms dari dosen membuat saya kalang kabut, khawatir kalau dosen tersinggung dengan SMS saya. Sedih dan cemas seharian itu. :’(
Tapi ternyata waktu bimbingan, dosennya sampai bilang “Sama saya mah nyantai aja ya, kalau saya ga bales bukan berarti saya marah, cuman saya kadang kelupaan”. Dan setelah mendengar cerita saya, suami berkomentar “Makanya kamu jangan terlalu cemas ya.Keep positive!”
Benar, kehati-hatian itu perlu namun tidak boleh sampai membelenggu kita dalam kekhawatiran. Belajar untuk berpikir positif itu sulit-sulit mudah-mudah gampang, terlebih ketika semua dikaitkan dengan realita hidup dan logika. Alloh menyuruh kita untuk berpikir positif karena Alloh sesuai dengan prasangka hamba-Nya. 

Hadist Abu Hurairah r.a ia berkata Rasululloh saw bersabda:
Alloh berfirman ‘Aku berada pada Sangkaan hamba-Ku, Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam suatu kaum, maka Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik darinya, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat pada-Ku satu hasta maka Aku mendekat padanya satu depa, jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Kamis, 19 Juni 2014

ALERT: DATA CRISIS

Melihat judul postingan saya kali ini, suami saya pasti bakal meledek saya deh. Pasalnya sudah dari beberapa tahun yang lalu suami membuat tulisan mengenai Krisis Data di Indonesia. Mungkin bagi yang berminat baca, ini link tulisan beliau.
Mungkin tidak hanya saya dan suami yang merasa bahwa ketersediaan data di Indonesia masih sangat minim. Selain itu aksesibilitas terhadap data tersebut sulit. Saya merasakan sulitnya saat ini, saya saat ini masih menyusun proposal tesis dan sebelum mengerucut pada rumusan permasalahan tentunya harus dipaparkan mengenai sejumlah alasan mengenai mengapa pentingnya pokok permasalahan itu perlu dijadikan sebagai bahan penelitian. Namun, data yang saya butuhkan mayoritas tidak update. Bayangkan saja, sebentar lagi mau memasuki semester II di tahun 2014, data terakhir yang tersedia masih per 2012. What??? 
Aah...sudahlah, mengeluh pun tidak akan berubah. Toh ini bukan yang pertama kali. Dan herannya untuk data-data yang bersifat umum, seperti xxxx dalam angka tahun yyyy yang dikeluarkan oleh BPS tidak dapat diunduh secara online, dan ketika saya konfirmasi alasannya ke pihak yang bersangkutan, jawaban yang saya peroleh adalah data memang bukan untuk umum. What? Kalau singkat saya, buat apa ada internet? internet tersedia ditujukan agar lebih efisien yaitu masyarakat tidak perlu susah untuk memperolehnya, cukup tekan enter tombol unduh, data dapat diperoleh. Selain itu,  mana yang selama ini disosialisasikan tentang "paperless". 

Sekian tulisan dari saya untuk kesempatan kali ini. Takut banyak mengeluhnya.


Cheers!

Rabu, 14 Mei 2014

Yuuk jadi Muslimah Berhijab ;)

Ketika suatu hal tidak bisa terealisasi, maka untuk mengetahui solusinya adalah dengan mencari tahu terlebih dahulu akar permasalahan (root causes) atau penyebab/alasan yang menyebabkan hal tersebut tidak terealisasi. Setelah diketahui hal-hal tersebut, maka langkah selanjutnya adalah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi hal-hal yang menjadi penyebab. Adapun yang ingin saya realisasikan adalah seluruh muslimah mengenakan hijab. Aamiin. 
Dalam hati, saya ingiiiin sekali orang-orang terdekat saya segera berhijab. Aamin. Mulai dari kakak-kakak saya, teman-teman saya dan muslimah lainnya.
Saya ingin sekali melakukan survey perihal ini, namun saya khawatir akan menyinggung perasaan orang lain. Namun berdasarkan hasil perbincangan dengan beberapa orang, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang kenapa sebagian muslimah masih enggan berhijab. Saya coba share disini ya…
     Hatinya belum siap…”
     “Kelakuan masih belum bener, mau jilbab-in hati dulu aja…”
     ”Muka keliatan bullet kalo pake jilbab….” Atau
     ”Jadi keliatan buntet/gendut…”
     ”Nanti deh kalo udah nikah…”
     ”Nanti deh kalo udah punya anak..”
     Belum punya banyak baju panjang. Nyicil dulu deh. Mulai dari ngumpulin baju-baju panjang..”

Dan sejumlah alasan lainnya.:)

Saya ingin mencoba menjawab alasan-alasan tersebut.

     Hatinya belum siap…” ­– Hati yang memiliki sebutan lain Qalbu memiliki arti bolak balik,sehingga kondisi qalbu tidak bisa tetap, dan yang menguasai qalbu ini adalah Alloh swt. Maka bagi muslim dianjurkan untuk tidak henti-hentinya berdoa meminta ketetapan iman islam kepada Alloh. Adapun do’a yang saya ketahui salah satunya adalah:
Yaa muqalibul qulub tsabit qalbi ala diniika wa tho’atika…” yang artinya Yaa Alloh yang Maha membolak balikan hati, tetapkan hati ini pada agamu-Mu dan keta’atan pada-Mu.
Jadi, akan tunggu sampai kapan kalau iman dalam hati bisa naik turun???
     “Kelakuan masih belum bener, mau jilbab-in hati dulu aja…”
Hijab itu bukan untuk muslimah yang sholehah, aktivis lembaga dakwah, anak kiai,tetapi untuk semua muslimah. Nih, buat lebih lengkapnya coba disimak ya..
Katakanlah kepada mereka wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera saudara laki-laki mereka, atau putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur:31)




Syaratnya “cukup beriman”, tidak disebutkan wanita sholehah atau sebagainya. Muslimah yang mendapat seruan adalah wanita yang beriman. Ketika meyakini Alloh sebagai Tuhan Sang Pencipta (Yaa Khaliq) atau dengan kata lain beriman kepada Alloh, maka disitulah kewajiban untuk berhijab bagi seorang muslimah. Tetep ga mau berHIJAB? Yang memberi perintah itu Alloh swt lho. :) (Semoga pembaca yang belum berhijab dapat tergerak hatinya)
  ”Muka keliatan bulet kalo pake jilbab….” Atau ”Jadi keliatan buntet/gendut…”
Dua alasan ini yang sering menggagalkan muslimah untuk berhijab. Singkatnya muslimah ingin tetap terlihat cantik dan itu sangaaaaat manusiawi sekali. Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik? Saya pun ingin terlihat cantik dan menarik (di depan suami saya). Hmm… Padahal dengan berhijab, sejatinya muslimah akan tetap terlihat cantik ditambah elegan. Tapi, jangan jadikan cantik sebagai niat untuk berhijab yaa. Tetap harus niat berhijabnya karena Alloh. Innamal a’malu binniyaah (Semua amal perbuatan tergantung niatnya). Karena saya sedikit menyayangkan tren hijab jaman sekarang. Bagus sih sebenarnya tampilan hijab modis,setidaknya menjadi daya tarik bahwa dengan berhijab tetap cantik dan trendy. Tapi nilai kepatuhan akan cara menutup aurat yang sesuai menjadi tergeser. Karena jelas-jelas disebutkan bahwa “……Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…. (QS. An-Nuur: 31)
Yuuk kita perbaiki cara berhijabnya… Saya juga sedang belajar untuk berhijab syar’i.

     ”Nanti deh kalo udah nikah…”
Kalimat ini sebenernya singkat tapi maknanya dalam sekali lho.Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana nasib Ayah kita?  Ketika ijab Kabul antara Ayah dan Suami adalah momentum terjadinya pertukaran tanggung jawab dalam hal membimbing kita dari Ayah ke Suami. Kenapa alasan sayang dan bakti  kepada Ayah tidak menggerakan hati kita untuk segera berhijab? (semoga dapat menjadi perenungan)
     Nanti deh kalo udah punya anak..”
Heu….alasan yang ini paling -.-“
Memang banyak komentar orang-orang sekitar ketika saya memutuskan untuk berhijab saat SMA dulu “Ji, kerudungan mah bikin keliatan tua. Jadi kayak ibu-ibu…” Terima kasih ya Alloh, sudah melindungi telinga saya, sehingga komentar seperti itu menjadi angin lalu saja bagi saya.
Sehingga alasan bahwa sebagian muslimah akan berhijab ketika mempunyai anak adalah hal yang wajar. Kan tanggung saja tuh kalau berhijab saat sudah punya anak, disebut “ibu-ibu” pun memang sudah “ibu-ibu”. hehe...ada-ada aja yaa...

     Dan alasan ini juga yang beberapa kali saya dengar…Belum punya banyak baju panjang. Nyicil dulu deh. Mulai dari ngumpulin baju-baju panjang.. “ à Tindakan yang saya ambil adalah memberi kerudung atau baju yang sudah jarang terpakai kepada muslimah yang sudah punya niat berhijab. Padahal kalau sudah punya niat baik, saya yakiiiiin sekali kalau Alloh akan memberi rizki.
Kalimat penutup dari saya untuk postingan kali ini adalah


Jumat, 11 April 2014

Anak adalah Amanah

Siang ini saya makan siang dengan sahabat sholihah saya di kantin Kementrian Imigrasi di Kuningan yang lokasinya dekat dengan kantor kami. Sepulangnya dari kantin, kami menuju Kuningan city. Di perjalanan, sahabat saya menceritakan isi ceramah Ustadz Bachtiar Nasir mengenai peranan seorang Ibu yang dilihatnya di Youtube. Hal yang diceritakannya masih terngiang yaitu anak itu adalah titipan, tetapi malah dititipkan lagi ke pembantu. Padahal sejatinya anak adalah amanah yang harus dijaga. Tantangan di masa depan anak kita akan lebih berat. Tanda-tanda akhir zaman sudah terlihat saat ini dimana para pemimpinnya banyak yang telah zalim. Bagaimana jadinya anak yang dididik pembantu akan menjadi sosok yang tangguh di masa yang akan datang? Rasanya ingin menjerit. Benar, saya pernah berbincang hal ini dengan suami saya. Minimal saya menginginkan anak saya seperti saya bahkan lebih baik dari saya. Tantangan bagi seorang ibu di masa kini dan masa yang akan datang akan lebih berat. Tantangan dimana teknologi akan menjadi sahabat dekat dari anak-anak. Bagaimana cara mengontrol apa yang menjadi tontonan mereka ketika akses informasi begitu terbuka luas? Banyak berita belakangan ini dimana anak remaja melakukan hal yang mencelakakan orang lain hanya karena urusan sepele, zina bahkan aborsi. Saya mengira hal tersebut dikarenakan pengawasan orang tua yang kurang dan remaja tersebut menonton film atau membaca komik yang menceritakan hal tersebut yang akhirnya menjadi tuntunan mereka. Saya tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada anak-anak saya. Naudzubillahimindzalik.

Saya ingin sekali resign dari pekerjaan saat ini dan melakukan aktivitas lainnya yang masih bisa menyeimbangkan kehidupan saya sebagai seorang istri dan ibu nantinya serta menjadi wanita karir. Banyak teman-teman saya yang sudah memutuskan untuk menjadi truly housewife. Dan saya kagum kepada mereka. Teman-teman saya lebih rajin ikut majlis ta'lim, karena pada hakikatnya ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya sehingga ibu perlu secara terus menerus menimba ilmu agar kelak dapat diajarkan pada anak-anaknya. Ada juga yang menjadi mompreneur. Hal-hal tersebut menjadi inspirasi bagi saya.

Saya meyakinkan pada diri bahwa saya tidak mungkin selamanya menjadi karyawan dan tidak ingin. PR (Pekerjaan Rumah) saya dari bulan yang lalu adalah membuat EXIT PLAN. Semoga malam ini saya bisa menemukan jalan keluarnya.

Yaa Hayyu Yaa Qayyum birohmatika Astagitsu ashlihli sya'ni kullahu wa laa takilni thorfatan 'aini. Aaamiin. 
 

Selasa, 25 Maret 2014

I Have to Commit with My Plan

Awal bulan ini, saya membuat perencanaan yang cukup detail untuk beberapa wishes. Namun, ternyata untuk keinginan yang abstrak waktunya, alhamdulillah bisa terlaksana minggu ini (tepatnya besok). Alhamdulillah.

Adapun yang ingin saya kupas saat ini adalah mengenai target kelulusan saya di bulan Juni 2014. Dengan target di bulan tersebut, saya merencanakan bahwa minimal akhir bulan ini saya harus sudah kolokium. Pada saat membuat time line, memang saya sedikit ragu, karena jadwalnya tidak realistis. Saya harus melakukan penyesuaian kembali atas plan-plan saya, terutama terkait dengan time linenya.
Statusnya untuk proposal saya saat ini adalah saya masih menyusun Bab 1, tepatnya latar belakang dan rumusan permasalahan. Setelah saya menyelesaikan postingan ini, saya akan melanjutkan untuk merapikan tulisan saya kemudian saya kirimkan ke Dosen Pembimbing 2. Saya mau minta pengarahan. Semoga mendapatkan pencerahan setelahnya. Aamiin.

Ya Alloh, tetapkan diri hamba agar selalu yakin dan tak lelah untuk berusaha. Benar memang, nasib suatu kaum tidak akan berubah kecuali kaum tersebut yang berusaha untuk mengubahnya. Yaappp....saya harus komitmen. SEMANGAAAAAAATTTT.,

Sekian yang bisa saya sampaikan.


Cheers!!!

Rabu, 19 Februari 2014

Masa Lalu adalah Hakiki

Hidup saya begitu warna dengan sejumlah pemain yang terlibat di dalamnya. Tak hanya masa lalu dan masa kini, tentunya masa depan akan melibatkan sejumlah pemain baru atau bahkan pemain lama yang akan memerankan kisah baru. Di kala membuka email pribadi, saya menemukan sejumlah email yang membuat mulut ini terkunci. Saya mereview kembali kisah masa lalu. Ada hal yang membuat diri ini malu, tersenyum, sedih, sampai dengan perasaan bersalah.
Namun, kala beberapa dari email tersebut saya hapus, tak lantas memori dalam ingatan saya ikut terhapus. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada orang-orang yang terlibat dalam masa lalu saya. Hal ini bukanlah merupakan suatu kebetulan. Hal ini sejatinya adalah skenario Alloh yang mengantarkan kita semua pada kondisi saat ini dan masa yang akan datang. 
Saya menyadari diri ini begitu banyak cacat yang mungkin ketika mengenang saya akan timbul rasa kesal dan marah. Maka dari itu, saya haturkan maaf atas kekhilafan saya yang begitu menggunung. Terima kasih telah mengisi kehidupan saya dengan goresan warna warni indah.
Semoga hal baik di masa lalu bisa menjadi kenangan indah di masa kini dan masa mendatang, dan semoga hal buruk dapat menjadi pelajaran untuk menjalani masa kini dan melangkah ke masa depan.

:) :) :)

Rabu, 12 Februari 2014

Three pairs of Flat Shoes

The deadline of paper submission to academic was last month, but till now i have not completed it. :)
I have so many things to do like tidy up my home, ironing, cooking etc and those made me could not handle my home work. It looks like a good sins, right? hehe
Yesterday, my lovely hubby offered a challenge that if i complete my homework and my proposal thesis, i will get NEW FLAT SHOES and 3 PAIRS. Yeeeaaaaa....

And today is Thursday, and the paper is still "ON PROGRESS" status. How it could be??? :'(

 I hope those Flat Shoes will be mine. Aamiin.

Cyber 2 Tower, 2.43 pm


xxxxxxKEEP ON FIRExxxxxxx  

Senin, 11 November 2013

Focus from one thing to another things

Kurang lebih dua minggu yang lalu percakapan ini berlangsung, ketika saya dan suami sedang dalam perjalanan menuju rumah mertua saya. Ketika itu, saya sedang bbm-an dengan sahabat saya, dia menceritakan tentang proses tes yang dia jalankan pada suatu institusi. Kemudian saya bertanya pada suami, "Sayang, aku nanti jadi apa ya? Aku nanti pindah kerja kemana ya?" dan suami saya menjawab, "cukup jadi orang yang bermanfaat. Jadi bermanfaat kan tidak ada patokannya harus menjadi apa dan dimana..."
Kemudian saya diam dan di dalam mobil  menjadi hening. Dia mungkin membaca keresahan hati saya yang sudah merasa tidak nyaman bekerja saat ini, ditambah dengan sejumlah tugas kuliah yang belum saya kerjakan. Dan dia pun menambahkan, "Sekarang kamu fokus aja dulu buat kuliah kamu. Setelah itu, baru fokus dengan yang lainnya."

Beberapa hari yang lalu pun ada lagi percakapan di dalam mobil tentang keinginan saya menyusun proposal tesis karena teman-teman saya yang lainnya sudah mulai menyusun dan bahkan ada yang sudah rampung, suami hanya berkomentar, "tugas kuliahnya udah selesai?" dan saya hanya geleng-geleng kepala. Dia tersenyum dan berkata sambil membelai kepala saya, "kamu beresin tugas kuliah baru lanjut ke proposal ya.."

Setelah merenung, memang benar yang suami saya bilang, tidak semua pekerjaan dapat kita kerjakan dalam satu waktu. Selesaikan satu persatu. Dan sepertinya untuk kembali merasakan bahwa sehari itu ada 24 jam, saya harus segera lulus kuliah. Iya benar, HARUS. Bukannya Alloh juga berfirman pada surat Al-Insyiroh ayat 7-8 yang berbunyi,
"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.

Jadi,target utama saya saat ini adalah LULUS KULIAH maksimal bulan April tahun 2014. 
Aamiin yaa robbal 'alamiin.

Semoga bermanfaat dan mencerahkan. :)

Minggu, 10 November 2013

Proceed to get married, pals!

Kalimat yang begitu ringan mengalir dengan pilihan kosa kata yang tidak baku namun dipikir-pikir cukup mendalam. Sabtu yang lalu, ketika berbincang dengan teman kuliah di perpusatakaan MB. Bahagia mendengarkan ceritanya bahwa dia akan segera dilamar. Ternyata sahabat saya ini merasa apa yang dialaminya seperti mimpi dan begitu mendadak. Dia menceritakan bahwa pasangannya ingin segera melamar dan menikah di awal tahun depan. Menurutnya hal ini terlalu cepat dan waktunya sangat begitu mepet. Dengan spontan saya berujar, "Lu pikir waktu yang gw butuhin buat persiapin nikah berapa lama? Kalo Alloh udah ngenilai lu siap, semua bakal jadi mudah dan lancar. Kalo misalnya lu dinilai belum siap,yakin deh dari hasil pertemuan orang tua lu nanti, bakal ada aja yang ngeganjel. Percaya deh ama gw. Lagian kalopun masalah bisa masak atau masih pengen main-main buat bergaul, itu masih bisa kok. Buktinya gw, apa iya gw udah pantes nikah? Tapi buktinya Alloh masangin gw ama hata buat  nikah. Gw yakin kalo Alloh ngepercayain ke gw untuk belajar dan gw bisa untuk ngejalaninnya. Perkara sekarang gw belum dititipin anak, gw bikin simple aja. Mungkin Alloh pengen gw belajar jadi istri yang baik dulu baru jadi ibu yang baik"

Begitu lancar saya berbicara,hal ini mungkin dikarenakan memang saya telah merasakannya. Ketika manusia memaksakan suatu kehendak namun Alloh punya skenario yang lebih indah. Alloh punya jalan untuk mengaturkan cerita yang kita jalani agar semuanya kembali menjadi apa yang dikehendakiNya. And it's proven!

Kemudian saya meyakinkan dirinya lagi untuk melanjutkan niat yang baik untuk menikah dengan meyakinkan bahwa niat baik harus secepatnya dieksekusi. Perkara pantas dan tidak pantas, siap dan tidak siap. Manusia seringkali khilaf dalam menilai. Dan semoga sahabat saya yang satu ini, semakin yakin untuk melangkah ke jenjang pernikahan.

Good luck, pals!

Kamis, 27 Desember 2012

Perbedaan itu Ada dan Nyata


Allah menciptakan segala sesuatu pasti beriringan dengan suatu alasan. Seperti halnya, “perbedaan pemikiran”. Bayangkan apabila pemikiran semua orang seragam, tidak akan lahir kreasi, penciptaan hal baru, semua akan berjalan monoton. Perbedaan membawa kepada suatu “diskusi” mencari titik simpangan yang bisa menampung perbedaan – perbedaan yang ada.  Kalau tidak ada perbedaan, mungkin kamus bahasa akan kehilangan 1 kata yaitu “memahami”. Memahami,saling mengerti itu adalah seni dalam bersosialisasi.

Tapi mengapa persamaan tetap dicari?? Sebenarnya bukan persamaan yang didapatkan,tapi sikap saling memahami,toleransi. Terkadang memahami adalah sikap yang menyebalkan,karena konsistensi akan pemikiran sendiri tidak tercapai. Saya juga merasakan memahami adalah sikap yang sulit untuk dilaksanakan.  Tapi saya sedang dalam proses untuk memahami dengan lebih bai atas perbedaan yang ada.

Senin, 06 Februari 2012

Do You Hate Your Life???

"You Hate Your life while Some People Wants Having Your Life...."*

Pernahkah Sahabat membenci kehidupan yang dijalani? Membeci apa yang diberi Sang Ilahi?
Pernahkah Sahabat berujar...
"Ahh, kenapa aku harus terlahir bertubuh gemuk, membuat aku tidak percaya diri saja..." disaat di belahan bumi sana banyak orang yang tubuhnya begitu kurus dan kulitnya seakan telah melepuh pasca dihujani sengatan matahari.
atau "Ahh, mengapa gajiku begitu pas-pasan???" di saat di luar sana berjuta-juta orang berstatus  sebagai pengangguran.
atau "Mengapa HANYA aku yang tidak bisa bergonta-ganti tas/pakaian/perhiasan minimal setiap  bulannya???" di saat masih banyak orang yang memiliki pakaian tidak layak 
"Males kuliah deh, dosennya killer..." di saat masih banyak orang yang mengenyam pendidikan dasar pun tidak mereka dapatkan, di saat kebutuaan akan pengetahuan mematikan potensi mereka.

Sahabat bisa renungkan sendiri ungkapan-ungkapan lainnya yang menunjukkan bentuk ketidaksyukuran atas Rahmat yang diberi Sang Pencipta yang seringkali dilontarkan.

Saya menyadari dan  meyakini bahwa apa yang Allah perintahkan berupa zakat adalah sebagai wadah untuk menolong mereka yang berkekurangan. Sahabat, semoga terpilihnya kita sebagai jalan Allah untuk menolong mereka dapat kita tunaikan. InsyaAllah.

Ya Allah, segala puji bagi-Mu...
Ya Allah, maafkan  hamba yang seringkali merasa berkekurangan....
Jadikan hamba sebagai insan yang selalu bersyukur atas Rahmat-Mu....

"Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aamiin."


*: Kalimat di atas saya dapatkan dari DP (Display Picture) teman di kontak BB saya. Saya terhenyak ketika melihat gambar tangan yang kering kerontang berada di atas telapak tangan yang sehat (sepertinya tangan seoang relawan). Berangkat dari gambar tersebut, inspirasi saya untuk membuat tulisan ini.