Tampilkan postingan dengan label Qalbun Salim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Qalbun Salim. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2016

Ikhlas kehilangan sesuatu membuka kran rizki lebih lebar

Minggu kemarin paket yang seharusnya terkirim ke customer Qeana Kids terbakar di agen jasa pengiriman. Huhuhu...customer komplain kok barangnya ga sampai-sampai. Setelah ditelusuri via telepon ke CS J*E dan buat laporan aduan akhirnya keesokan harinya dapat kabar bahwa paket terbakar. Ibu marah saat itu kenapa baru dihubungi setelah melakukan laporan. Telepon berkali-kali putus nyambung sampai 6 kali lantaran setiap telepon "mohon tunggu akan kami cek." Tahunya sambungan terputus. Dan ketika menelpon ulang harus mulai dari awal lagi, kecuali telepon yang ke-4,5 & 6 karena ibu sudah dapat nomor aduan. Tapiiiiiii...pemirsaaa pada saat menyebutkan nomor aduan dinyatakan belum terdapat di sistem. Yasudahlah yaa...ibu follow up juga via email dengan menyebutkan nomor aduan.
Lalu, hari senin kemarin ibu menyerahkan resi asli dan melakukan klaim. Kebijakan penggantian sendiri hanya 10 kali dari ongkos kirim, waktu itu pengiriman ke jakarta jadi ongkirnya hanya 9ribu, namun nilai paket itu sebesar 280ribu. Ibu meminta penggantian penuh plus ongkir. Ibu sendiri sudah mengirim ulang ke customer, karena pantang bagi ibu untuk buat customer kecewa. TRUSTED alias amanah. Itu value yang dipegang Qeana Kids. InsyaAlloh seterusnya seperti itu. Keesokan harinya pihak CS J*E tangerang menghubungi untuk menyampaikan bahwa penggantiannya tidak bisa penuh. "POKOKNYA SAYA MINTA DIGANTI FULL! Udah ya saya mau urus bayi saya dulu."
Setelah menutup telepon, "Astaghfirullah...kenapa ga diikhlasin aja sih ji?". Ibu lalu sholat dzuhur dan meminta ampun atas khilaf ibu.
Ibu mengirimkan pesan ke CS J*E yang tadi menghubungi ibu.

Akhirnya Ibu belajar untuk ikhlas. Mungkin ini teguran dari Alloh karena kurang sedekah atau hal lainnya. Sore harinya orderan berdatangan dan kemarin dikejutkan dengan orderan terbesar yang pernah Ibu terima. Matematika Alloh memang bukan hitungan yang bisa dinalar makhluk-Nya. 

Alhamdulillahirobbil'alamin. Terima kasih atas semua yang Engkau berikan. Bimbing haba agar senantiasa menjemput rizki secara halal dan thayyib. Aamiin.

Kamis, 03 Juli 2014

Berhati-hati akan Pujian

Setelah apa yang disampaikan suami saya beberapa waktu yang lalu, saat ini saya menjadi takut sekali mendapat pujian. Menurut suami, saya termasuk orang yang senang akan pujian. Saat ini saya takut apabila apa yang saya lakukan adalah karena ingin mendapatkan pujian atau penilaian baik dari manusia. Padahal bukankah semua perbuatan baik yang kita lakukan harus atas niat kepada Alloh? Namun saya juga tidak ingin menjadikan ketakutan untuk dipuji menghentikan langkah saya untuk berbuat baik, karena apabila terbesit pikiran seperti itu juga sudah dapat dikatakan riya? karena yang menjadi fokus pikiran adalah penilaian makhluk. Saya sangat senang sekali dengan status BBM sahabat saya yaitu " Refresh Our Niyyah". Memang niat itu adalah permulaan dari suatu amal, namun untuk menjaga niat tersebut patutlah kita terus memperbaharui dan menetapkan niat hanya untuk Alloh. Semoga kita tidak termasuk makhluk riya. Keponakan sekaligus menantu Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "Orang yang riya memiliki beberapa ciri , 
  • Malas jika sendirian
  • dan rajin jika di hadapan banyak orang,
  • Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.
Saya masih sering merasa ingin berbuat baik ketika mendapatkan pujian. Astaghfirullohaladzim. Semoga saya mendapat kesempatan untuk terus berintropeksi dalam memperbaiki niat. Aamiin.




Rabu, 25 Juni 2014

Kembali Positif



Ada hal yang kurang baik yang harus saya ubah secepatnya, yaitu berhenti menafsirkan. Seringkali ketakutan dan kekhawatiran timbul pada diri saya karena saya menafsirkan berlebihan. Seperti pada saat akan bimbingan dosesn, deg-degannya bukan main. Nada yang salah ketika membaca sms dari dosen membuat saya kalang kabut, khawatir kalau dosen tersinggung dengan SMS saya. Sedih dan cemas seharian itu. :’(
Tapi ternyata waktu bimbingan, dosennya sampai bilang “Sama saya mah nyantai aja ya, kalau saya ga bales bukan berarti saya marah, cuman saya kadang kelupaan”. Dan setelah mendengar cerita saya, suami berkomentar “Makanya kamu jangan terlalu cemas ya.Keep positive!”
Benar, kehati-hatian itu perlu namun tidak boleh sampai membelenggu kita dalam kekhawatiran. Belajar untuk berpikir positif itu sulit-sulit mudah-mudah gampang, terlebih ketika semua dikaitkan dengan realita hidup dan logika. Alloh menyuruh kita untuk berpikir positif karena Alloh sesuai dengan prasangka hamba-Nya. 

Hadist Abu Hurairah r.a ia berkata Rasululloh saw bersabda:
Alloh berfirman ‘Aku berada pada Sangkaan hamba-Ku, Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku, jika ia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam suatu kaum, maka Aku mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik darinya, dan jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat padanya satu hasta, jika ia mendekat pada-Ku satu hasta maka Aku mendekat padanya satu depa, jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.”

Rabu, 14 Mei 2014

Yuuk jadi Muslimah Berhijab ;)

Ketika suatu hal tidak bisa terealisasi, maka untuk mengetahui solusinya adalah dengan mencari tahu terlebih dahulu akar permasalahan (root causes) atau penyebab/alasan yang menyebabkan hal tersebut tidak terealisasi. Setelah diketahui hal-hal tersebut, maka langkah selanjutnya adalah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi hal-hal yang menjadi penyebab. Adapun yang ingin saya realisasikan adalah seluruh muslimah mengenakan hijab. Aamiin. 
Dalam hati, saya ingiiiin sekali orang-orang terdekat saya segera berhijab. Aamin. Mulai dari kakak-kakak saya, teman-teman saya dan muslimah lainnya.
Saya ingin sekali melakukan survey perihal ini, namun saya khawatir akan menyinggung perasaan orang lain. Namun berdasarkan hasil perbincangan dengan beberapa orang, ada beberapa hal yang menjadi latar belakang kenapa sebagian muslimah masih enggan berhijab. Saya coba share disini ya…
     Hatinya belum siap…”
     “Kelakuan masih belum bener, mau jilbab-in hati dulu aja…”
     ”Muka keliatan bullet kalo pake jilbab….” Atau
     ”Jadi keliatan buntet/gendut…”
     ”Nanti deh kalo udah nikah…”
     ”Nanti deh kalo udah punya anak..”
     Belum punya banyak baju panjang. Nyicil dulu deh. Mulai dari ngumpulin baju-baju panjang..”

Dan sejumlah alasan lainnya.:)

Saya ingin mencoba menjawab alasan-alasan tersebut.

     Hatinya belum siap…” ­– Hati yang memiliki sebutan lain Qalbu memiliki arti bolak balik,sehingga kondisi qalbu tidak bisa tetap, dan yang menguasai qalbu ini adalah Alloh swt. Maka bagi muslim dianjurkan untuk tidak henti-hentinya berdoa meminta ketetapan iman islam kepada Alloh. Adapun do’a yang saya ketahui salah satunya adalah:
Yaa muqalibul qulub tsabit qalbi ala diniika wa tho’atika…” yang artinya Yaa Alloh yang Maha membolak balikan hati, tetapkan hati ini pada agamu-Mu dan keta’atan pada-Mu.
Jadi, akan tunggu sampai kapan kalau iman dalam hati bisa naik turun???
     “Kelakuan masih belum bener, mau jilbab-in hati dulu aja…”
Hijab itu bukan untuk muslimah yang sholehah, aktivis lembaga dakwah, anak kiai,tetapi untuk semua muslimah. Nih, buat lebih lengkapnya coba disimak ya..
Katakanlah kepada mereka wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putera saudara laki-laki mereka, atau putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur:31)




Syaratnya “cukup beriman”, tidak disebutkan wanita sholehah atau sebagainya. Muslimah yang mendapat seruan adalah wanita yang beriman. Ketika meyakini Alloh sebagai Tuhan Sang Pencipta (Yaa Khaliq) atau dengan kata lain beriman kepada Alloh, maka disitulah kewajiban untuk berhijab bagi seorang muslimah. Tetep ga mau berHIJAB? Yang memberi perintah itu Alloh swt lho. :) (Semoga pembaca yang belum berhijab dapat tergerak hatinya)
  ”Muka keliatan bulet kalo pake jilbab….” Atau ”Jadi keliatan buntet/gendut…”
Dua alasan ini yang sering menggagalkan muslimah untuk berhijab. Singkatnya muslimah ingin tetap terlihat cantik dan itu sangaaaaat manusiawi sekali. Wanita mana yang tidak ingin terlihat cantik? Saya pun ingin terlihat cantik dan menarik (di depan suami saya). Hmm… Padahal dengan berhijab, sejatinya muslimah akan tetap terlihat cantik ditambah elegan. Tapi, jangan jadikan cantik sebagai niat untuk berhijab yaa. Tetap harus niat berhijabnya karena Alloh. Innamal a’malu binniyaah (Semua amal perbuatan tergantung niatnya). Karena saya sedikit menyayangkan tren hijab jaman sekarang. Bagus sih sebenarnya tampilan hijab modis,setidaknya menjadi daya tarik bahwa dengan berhijab tetap cantik dan trendy. Tapi nilai kepatuhan akan cara menutup aurat yang sesuai menjadi tergeser. Karena jelas-jelas disebutkan bahwa “……Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya…. (QS. An-Nuur: 31)
Yuuk kita perbaiki cara berhijabnya… Saya juga sedang belajar untuk berhijab syar’i.

     ”Nanti deh kalo udah nikah…”
Kalimat ini sebenernya singkat tapi maknanya dalam sekali lho.Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana nasib Ayah kita?  Ketika ijab Kabul antara Ayah dan Suami adalah momentum terjadinya pertukaran tanggung jawab dalam hal membimbing kita dari Ayah ke Suami. Kenapa alasan sayang dan bakti  kepada Ayah tidak menggerakan hati kita untuk segera berhijab? (semoga dapat menjadi perenungan)
     Nanti deh kalo udah punya anak..”
Heu….alasan yang ini paling -.-“
Memang banyak komentar orang-orang sekitar ketika saya memutuskan untuk berhijab saat SMA dulu “Ji, kerudungan mah bikin keliatan tua. Jadi kayak ibu-ibu…” Terima kasih ya Alloh, sudah melindungi telinga saya, sehingga komentar seperti itu menjadi angin lalu saja bagi saya.
Sehingga alasan bahwa sebagian muslimah akan berhijab ketika mempunyai anak adalah hal yang wajar. Kan tanggung saja tuh kalau berhijab saat sudah punya anak, disebut “ibu-ibu” pun memang sudah “ibu-ibu”. hehe...ada-ada aja yaa...

     Dan alasan ini juga yang beberapa kali saya dengar…Belum punya banyak baju panjang. Nyicil dulu deh. Mulai dari ngumpulin baju-baju panjang.. “ à Tindakan yang saya ambil adalah memberi kerudung atau baju yang sudah jarang terpakai kepada muslimah yang sudah punya niat berhijab. Padahal kalau sudah punya niat baik, saya yakiiiiin sekali kalau Alloh akan memberi rizki.
Kalimat penutup dari saya untuk postingan kali ini adalah


Minggu, 02 Maret 2014

Jadi Muslim JANGAN JOROK!!!



Sabtu kemarin, setelah seharian aktivitas mengikuti kuliah umum seminar, cari bahan di perpustakaan tesis kemudian mengikuti seminar hasil di kampus, saya memutuskan untuk menunggu dan sholat Maghrib di masjid kampus “Al-Ghifari” namanya. Saya sangat kesal sekali melihat kondisi masjid yang sangat kotor. Tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak terkait, tetapi mengajak pihak-pihak terkait dan para sahabat muslim lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam memperbaiki identitas sebagai muslim/muslimah yang baik yang mencintai akan kebersihan. Karena bukankan Kebersihan adalah sebagian dari Iman???
            Sahabat, apakah pantas kamar kecil dan tempat wudhu di masjid dipenuhi dengan sampah, seperti tisu bekas pakai, pembalut, dan hal lainnya yang tidak perlu saya sebutkan. Dan selain itu, bau pesing yang sangat mengganggu indra penciuman. Dan ketika saya naik ke lantai atas tempat sholat wanita, tempat sampahnya terguling dan tentunya sampahnya jadi berserakan. Astaghfirulloh, maafkan hamba yaa Alloh, karena saat itu saya hanya menegakkan kembali tempat sampah itu, bukan merapikannya. Alhamdulillah, akhwat di belakang saya membantu merapikannya. Saya bersyukur saat itu. Akan tetapi, mukenanya sangat bau. Hmmm….bukan wakaf mukena baru solusinya, tetapi manajemen mukena yang lebih baik yaitu cuci secara rutin.
Setelah saya sholat, di bawah tangga saya melihat tempat sampah dengan isinya yang sudah terurai kemana-mana, dan tak jauh dari situ sekumpulan aktivis kampus sedang berdiskusi. Akhwatifillah, kenapa merapikan sisa makananmu begitu sulit??? Isi tempat sampah tersebut sama dengan kotak makanan yang belum dimakan dimana terletak di dekat akhwat-akhwat tersebut. Maaf kalau perkiraan saya keliru. Kalau saya menegur, saya hanya akan emosi dan menjadi manusia TMDL alias Talk More Do Less. Saya kemudian menghampiri suami saya dan mengajaknya berdiskusi (cenderung menggerutu sih…heu).
            “Temenin ketemu DKMnya yuuk! Aku minta uang dong 100ribu aja dulu sama ambil amplop di mobil.”
Suami saya tentu bertanya, “buat apa sayang?”
“Biar mukenanya di-laundry. Bau bangeet. Bukan mukena baru yang dibutuhin masjid, tapi mukena bersih.”
Suami saya tersenyum dan dengan tenang meraih tangan saya untuk menenangkan”Kamu jangan offensive. Nanti yang ada mereka malah tersinggung. Mungkin bukan disitu letak akar permasalahannya. Kamu bicarakan dulu dengan DKMnya secara tenang. Kalau perlu kamu ajak temen-temen kuliah kamu untuk ikut partisipasi. Dengan uang yang lebih banyak, mungkin akan terbentuk perubahan yang lebih baik.”
Ya, benar juga. Suami saya kemudian memberikan ide untuk mengumpulkan teman-teman yang mau berpartisipasi. Saya sudah mulai screening orang-orang yang akan saya mintakan donasi. Hehehe…
Ide dari suami saya adalah:

  1. Beli 2 jenis mukena dengan warna berbeda, misalnya 5 mukena warna dan 5 mukena putih atau intinya buat mukena yang digunakan di masjid menjadi 2 kelompok. 
  2.  Buat jadwal pakai dan cuci mukena, misalnya pada saat minggu 1 mukena warna yang dipakai, dan mukena putih menjadi cadangan. Untuk minggu ke-2 mukena putih yang dipakai dan mukena warna dicuci. Ketika warna mukena tidak sesuai dengan jadwal berarti jadwal mencuci tidak dijalankan lagi. Sederhana dan menurut saya efektif. Hal itu sebagai control bagi para pengurus.


Jujur saya memperkirakan tidak terawat dan kotornya masjid karena tidak ada yang bertanggung jawab akan kebersihan masjid alias tidak adanya petugas kebersihan. Apakah hal ini perlu disampaikan ke Bapak Rektor ya?

Hal ini sangat signifikan berbeda dengan mushola kampus MB yang bersih dan mukenanya dicuci 2 kali dalam seminggu. Saya berharap, MB mau melakukan perawatan masjid kampus “Al-Ghifari” juga. Walaupun mungkin sebenarnya maintenance masjid kampus tidak berada di dalam cakupan tanggung jawab MB.

Buat para sahabat, kakak-kakak, adik-adik, om tante, dan para pembaca yang ingin ikut sumbang saran dan berpartisipasi dengan program perdana yaitu mukena bersih yang saya rancang. Hubungi saya ya melalui email pribadi:

Jazakumulloh khairan kastiro

Mencuri adalah Syirik!!!

Ketika mendengar kata "syirik" yang langsung menjadi top of mind saya adalah segala perbuatan yang mempersekutukan Alloh, yaitu seperti percaya akan ramalan, mendatangi dukun, meyakini tuhan selain Alloh dan hal lain semisalnya. Tidak terbesit sama sekali bahwa perbuatan MENCURI, KORUPSI, dan BERBOHONG adalah perbuatan SYIRIK juga. Saya mulai sadar dan terbuka pikiran akan hal ini ketika mengikuti kajian di salah satu masjid di gedung kantor BUMN. Pada waktu itu, sang Ustadz dengan tegas mengatakan bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan Syirik.
 Mengapa mencuri dan KORUPSI dikategorikan syirik?  karena sang pencuri dan KORUPTOR mempersekutukan Alloh dengan harta yang sejatinya adalah benda mati. Karena sang pencuri dan KORUPTOR takut tidak bisa hidup karena kelaparan. Padahal, Alloh sudah menjamin untuk mencukupkan kebutuhan hamba-hamba-Nya, maka dari itu tidak ada yang perlu ditakutkan ketika bergantung kepada Alloh swt.

Syirik adalah dosa besar, dan balasan akan syirik adalah neraka, semoga kita terhindar dari perbuatan syirik.

"......Bahawasanya, sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain, maka sesungguhnya Allah haramkan kepadanya syurga dan tempat kembalinya ialah ke neraka......”(QS. AL-Maidah:72)

Sahabat, cukuplah kita hanya bergantung kepada Alloh:
Yaa Hayyu Yaa Qayyum bi rohmatika astaghits ashlihli sya'ni kullahu wa laa takilni ila nafsi thorfatan 'ayn

Ya Alloh yang Maha Hidup dan Maha berdiri sendiri, tolonglah hamba perbaiki urusan hamba dan jangan serahkan kepada hamba walau sekejap mata. Aamiin yaa robbal 'alamiin.

Bismillahirohmanirrohim. Semua kebenaran bersumber dari Alloh swt dan semua kekhilafan adalah milik saya pribadi. Semoga mencerahkan. 


 Gambar kartun pencurinya nemu di blog gambarnyaaldriana.blogspot.com