Tampilkan postingan dengan label Ibu Cemara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Cemara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2016

MPASI : Babak baru bagi si kecil

Setelah tahapan ASI eksklusif dilalui, memasuki usia 6 bulan adalah babak baru bagi si kecil untuk memulai MPASI yang merupakan singkatan dari Makanan Pendamping Air Susu Ibu. Sebagaimana fungsinya sebagai pendamping, maka menu utamanya tetap ASI bukan? setelah saya membaca buku karya , pemberian makanan pendamping merupakan salah satu cara penyapihan bayi terhadap susu ibu. Oh iya, saya tidak sepenuhnya menerapkan metode BLW untuk Ihsaan. Saya kombinasikan dengan spoon fed. :-)
Lalu, apa saja yang harus kita persiapkan untuk MPASI si kecil? Ini pengalaman saya ya bunda, semoga bermanfaat.

1. High Chair atau Booster
Penggunaan high chair atau booster tergantung pilihan bunda sendiri. Saya memilih menggunakan high chair untuk Ihsaan karena memang tidak ada kursi yang pas untuk booster. hehe...alasan yang cukup logis. High chair yang saya pilih juga sangat sederhana. Awalnya saya berniat beli di IKEA atas rekomendasi teman saya, harga satu set nya (high chair dan tray) 229 ribu rupiah. Alhamdulillah saya dapat rizki voucher Informa dari kakak saya, ya sudah akhirnya saya membeli di informa high chair nan simple berwarna biru dengan harga yang lebih terjangkau yaitu 219 ribu. Lebih murah ya..hehe #ibuhemat

2. Bib/Apron/Slabber
Jenis apron yang saya tahu dulu waktu kecil berbahas kaos, ternyata sekarang banyak sekali pilihan apron berbahan plastik. Lebih mudah untuk dibersihkan (baca: cuci-kering-pakai). Saya pun memilih apron pelikan. Itu lho yang belakangnya ada plastik yang bisa dibalik ke depan. Tujuannya adalah jika terjadi peperangan saat proses makan (hahaha...lebay), makanan tidak langsung jatuh ke lantai tapi masuk ke kantung pelikan pada apronnya. Tapi, praktiknya tetap saya alasi koran. Karena Ihsaan sering kali tarik-tarik apronnya, jadi jatuh makanannya pun ke segala arah.

3. Peralatan Makan
Ihsaan adalah bayi hemat, hehe...Alhamdulillah Ihsaan dapat feeding set yang BPA free. Jadi ibu ga repot-repot belanja lagi. Dan menurut yang Ibu baca, gunakan peralatan makan yang tidak terlalu banyak gambar dan warnanya tidak terlalu mencolok, agar si kecil fokus pada makanan yang diletakan pada wadah bukan pada wadahnya. 

4. Sterilizer atau sterilkan dengan cara tradisional
Pengalaman Ihsaan yang sempat kena disentri menjadi pelajaran berharga bagi Ibu dan Ayah. Sejauh ini memang untuk mencuci dan mensterilkan alat makan Ihsaan, Ibu belum menggunakan sterilizer (soalnya masih tertinggal di rumah nenek di Sukabumi) tapi masih menggunakan metode rendam di air panas. Jadi caranya masak air sampai mendidih, lalu matikan api. Kemudian masukan alat makan yang akan disterilkan, tunggu sekitar 1-3 menit lalu tiriskan dan gunakan. Jadi, dapat dikatakan sterilizer sifatnya sunnah. hehe...Honestly, kalau bukan karena dapat kado dari teman satu gank, Ibu ga bakal beli. Abis mahal ya buibu...hehe...



Salahkah Ibu yang akhirnya memberikan Sufor untuk bayinya?

Anak ASI Versus anak Sufor menjadi topik yang selalu hangat diperbincangkan. Si Ibu ASI akan cenderung merasa "safe" dan unggul ketika mampu memberikan ASI untuk anaknya. Lalu, apakah Ibu yang memberikan sufor adalah ibu yang tidak cinta pada anak?
Dalam Islam, persoalan saudara persusuan diatur yang menunjukkan bahwa Alloh yang Maha Menguasai segalanya sudah mengatur sedemikian rupa perihal ini. Hmm...yang artinya memang ada beberapa wanita yang Alloh kehendaki tidak bisa menghasilkan ASI, maka dari itu agar anak tetap mendapatkan manfaat ASI dapat ditempuh dengan adanya Ibu Susu. Lalu, mengapa hal ini masih dianggap "ribet" oleh beberapa kalangan? Ini dia beberapa alasannya.
1. Orang tua penerima donor asi harus bisa menerima konsekuensi yang dihasilkan dari donor asi ini berupa konsekuensi saudara sepersusuan. Lalu, apa yang dimaksud saudara sepersusuan?
2. Konsekuensi lainnya adalah orang tua penerima asi harus memastikan bahwa asi yang diterima dihasilkan dari ibu asi yang sehat dan berkepribadian baik.

Senin, 11 Januari 2016

NO TIPPING bukan berarti NO PUNGLI

Selamat hari senin, semuanya!

Saya mau berbagi pengalaman pertama mengurus cargo di bandara. Hari sabtu kemarin, saya mendapat amanah dari kakak saya untuk mengambil barang-barangnya sebanyak 16 koli di Cargo Garuda. Saya benar-benar awam mengenai hal ini, begitupun suami saya. Akhirnya berbekal dari google, saya menghubungi contact center Cargo Garuda untuk menanyakan lokasi pengambilan barang di Bandara Soekarno Hatta. Bagi yang belum tahu, saya share ya lokasinya, yaitu arah terminal 3, setelah bunderan batu belok kiri, kemudian ada tulisan terminal cargo dan melewati terowongan kemudian belok kiri lagi. Setelah itu, ikuti sign yang ada, dan lokasinya tepat di sisi kiri bersebelahan dengan kantor pos Indonesia. Adapun lokasi customer service Cargo Garuda berada di gudang 510. Semoga cukup jelas ya.

Lanjut lagi yaa...

Nah, karena barang yang diangkut cukup banyak, akhirnya kami memesan GO-BOX. Ihhh...i really appreciated it. Fast response pisan. Ini yang disebut inovatif, ketika inovasi tersebut sangat mudah diaplikasikan. Jujur saja, saya pertama kali menggunakan fitur dari Go-Jek. Biaya yang harus dikeluarkan juga sudah sangat jelas di awal, jadi klik order apabila user menerima biaya yang tercantum. Akhirnya, kami (saya,suami dan baby ihsaan) kopdar sama mamang GO-BOX di area cargo garuda. Oohh...langkah selanjutnya apa ya? Saya mencoba melihat hiruk pikuk yang ada disitu. Okay, langkah pertama adalah antri di loket yang bertuliskan 'CARGO GARUDA' untuk mendapatkan Delivery Order a.k.a DO yang kemudian kita mengantri kembali ke kasir untuk membayar sejumlah biaya (doc charge, sewa gudang, dll). Ow ow...suami tidak membawa uang cash dalam jumlah banyak, karena tidak tersedia layanan gesek atau menggunakan debit card.

Hmm...pergilah suami saya ke ATM di dekat situ sembari membeli sarapan untuk saya (buru-buru jadi ga sempet sarapan deh). Akhirnya ketika dibayarkan disebut 381.700, saya berikan uang 400 ribu dan diberi kembali 17ribu, ada yang keliru menghitung uang kembalian sepertinya. Tapi saya tidak heran, karena bapak yang mengantri di depan saya juga diminta uang 15 ribu padahal tertera pada dokumennya 13ribu sekian. Nominalnya memang sangat kecil, hanya sekitar 1-2ribu yang apabila dikalikan 100 transaksi dalam sehari hanya akan diperoleh 1-2 ratus ribu, lain halnya ya kalau dikali 30 hari dalam sebulan. Tapi, sangat disayangkan keberkahan mencari  rizki yang halal harus ternodai hanya karena uang recehan. Semoga memang mas-mas yang di loket kasir itu hanya keliru menghitung kembalian ya, semoga. Aamiin.

Setelah soal bayar-membayar selesai. Kami pergi ke bagian pergudangan dan menyerahkan lembaran lembaran berwarna putih dari dokumen DO ke bagian gudang dan menunjukkan lembaran biru ke sekuriti pada saat meninggalkan area cargo. Setelah barang-barang selesai diangkut ke dalam mobil box, seseorang dari bagian gudang "mepet" terus memberi sinyal kepada suami untuk memberi uang tip, suami mengeluarkan uang sebesar 10 ribu, setelah itu seorang porter berseloroh, "Pak, saya pak porter." Lalu, saya yang menimpali, "bukannya NO TIPPING." dengan nada datar. Si porter pun menyengir malu lalu pergi dari hadapan kami. Ternyata hal tersebut tidak memundurkan niat sang sekuriti. Karena sekuriti terus berkicau "mepet' kami juga. Setelah kami pamit pergi, suami pun menitipkan sedikit untuk sang sekuriti. Hmm.. rasa nggak enak kali ya pak suami dengan pak sekuriti. Ternyata setelah pak suami check in di foursquare, banyak testimoni yang muncul dan highlightnya adalah "Prepare for ilegal fee". Ho hi ho...

Semoga semua bisa lebih profesional ya, bagi si penyedia jasa maupun si pengguna jasa. Hal ini diawali dengan rasa ga enakan yang berujung pada kebiasaan menerima bagi si penyedia jasa, jadi kalau ga nerima "uang lebih" berasa ga afdol gitu. Hmmm..nanti pas sekalinya ada yang ga ngasih, si penyedia jasa ngerasa ga ikhlas. Hmmm...yuuk ah profesional. NO TIPPING bener-bener NO TIPPING. :)

Sabtu, 09 Januari 2016

I don’t want to say good bye, but I want to say “ see you soon’

Lebaran kemarin adalah moment pertama dan terakhir (sampai saat ini) dia bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halamannya sejak dia menikah 6 tahun yang lalu. Apakah mungkin itu adalah suatu pertanda bahwa ke depannya dia akan tinggal jauh dari kami keluarganya?

Hal yang jelas adalah dalam hitungan jam ke depan, kakakku akan pergi untuk tinggal di kampung halaman kakak ipar. Ah, menuliskan hal ini saja membuat mataku berderai air mata. Dia adalah kakak yang paling aku sayang dan dia adalah orang yang sering menolongku. Aku ingat sekali memori saat kami masih kecil, aku sering mengerjai dan mem-bully-nya, namun dia tetap menjadi malaikat penolongku. Waktu kuliah, ketika uang jajanku sudah makin menipis, aku mengirim pesan padanya, dan tiba-tiba dia mengabarkan sudah mengirimkan uang padaku, begitupun ketika aku sudah bekerja. Dia menjadi orang yang memberi apresiasi atas pencapaianku mendapat pekerjaan, padahal gajiku sangat kecil. Saking kecilnya, hingga untuk membayar uang kost pun dia yang membayarkan di bulan pertama dan memberi subsidi pada bulan-bulan berikutnya. Dia adalah kakak yang selalu ingin mendandaniku walaupun seringkali aku tidak menurut karena pilihannya terlalu modis. Ranah inilah yang sering membuatku berdebat dengannya. Dia sering aku koreksi dan dia tidak marah. Ah…dia adalah kakakku yang sangat penyabar. Up and down dalam hidupnya benar-benar seperti roll coaster. Satu hal yang aku ingin tiru darinya adalah dia sangat menyayangi keluarga kecilnya dengan sepenuh hati. Di balik tubuh mungilnya, dia adalah sosok yang tegar dan kuat. Masalah yang dihadapinya bukanlah hal yang kecil, namun dia tetap tabah.I’am a proud sister.
Aku mencoba untuk biasa saja dengan kepergiannya pada lusa nanti, namun ternyata aku tidak bisa. Walaupun pertengahan tahun ini dia akan kembali ke Indonesia, namun membayangkan jarak antara kami semakin jauh membuatku semakin berat melepasnya. Sebelumnya ketika dia tinggal di Palembang pun kami lebih sering berkomunikasi secara virtual. Bukan tidak bisa kami berkomunikasi secara virtual ketika dia ada di Inggris. Namun, ….Ah, aku akan sangat merindumu.
Ya Alloh, pintaku…Semoga Engkau senantiasa meletakkan taufik dan hidayah bagi Kakakku dan keponakanku. Peluk erat mereka dalam ketaatan pada-Mu, Aamiin yaa robbal alamiin.
Allohumma innaka ta’lamu ana hadzihil qulub, qodij tama’at ‘ala mahabbatik wal taqot ‘ala tho’atik wa tawahhadat ‘ala da’watik wa ta’ahadat ‘ala nusyroti syari’atik. Fawatsiqillahumma robithotaha wa adim wuddaha wahdiha subulaha wamla’ha binurikkaladzi la yahub washroh suduroha bifaydil Imanibik wa jamilit tawakkuli ‘alayk wa ahyiha bi ma’rifatik wa ‘amitha ‘ala syahadatik fii sabilik. Innaka ni’mal mawla wa ni’ma natsir. Allohumma Aamiin. Wa sholillahumma ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa salim.

Kamis, 07 Januari 2016

Ikhlas kehilangan sesuatu membuka kran rizki lebih lebar

Minggu kemarin paket yang seharusnya terkirim ke customer Qeana Kids terbakar di agen jasa pengiriman. Huhuhu...customer komplain kok barangnya ga sampai-sampai. Setelah ditelusuri via telepon ke CS J*E dan buat laporan aduan akhirnya keesokan harinya dapat kabar bahwa paket terbakar. Ibu marah saat itu kenapa baru dihubungi setelah melakukan laporan. Telepon berkali-kali putus nyambung sampai 6 kali lantaran setiap telepon "mohon tunggu akan kami cek." Tahunya sambungan terputus. Dan ketika menelpon ulang harus mulai dari awal lagi, kecuali telepon yang ke-4,5 & 6 karena ibu sudah dapat nomor aduan. Tapiiiiiii...pemirsaaa pada saat menyebutkan nomor aduan dinyatakan belum terdapat di sistem. Yasudahlah yaa...ibu follow up juga via email dengan menyebutkan nomor aduan.
Lalu, hari senin kemarin ibu menyerahkan resi asli dan melakukan klaim. Kebijakan penggantian sendiri hanya 10 kali dari ongkos kirim, waktu itu pengiriman ke jakarta jadi ongkirnya hanya 9ribu, namun nilai paket itu sebesar 280ribu. Ibu meminta penggantian penuh plus ongkir. Ibu sendiri sudah mengirim ulang ke customer, karena pantang bagi ibu untuk buat customer kecewa. TRUSTED alias amanah. Itu value yang dipegang Qeana Kids. InsyaAlloh seterusnya seperti itu. Keesokan harinya pihak CS J*E tangerang menghubungi untuk menyampaikan bahwa penggantiannya tidak bisa penuh. "POKOKNYA SAYA MINTA DIGANTI FULL! Udah ya saya mau urus bayi saya dulu."
Setelah menutup telepon, "Astaghfirullah...kenapa ga diikhlasin aja sih ji?". Ibu lalu sholat dzuhur dan meminta ampun atas khilaf ibu.
Ibu mengirimkan pesan ke CS J*E yang tadi menghubungi ibu.

Akhirnya Ibu belajar untuk ikhlas. Mungkin ini teguran dari Alloh karena kurang sedekah atau hal lainnya. Sore harinya orderan berdatangan dan kemarin dikejutkan dengan orderan terbesar yang pernah Ibu terima. Matematika Alloh memang bukan hitungan yang bisa dinalar makhluk-Nya. 

Alhamdulillahirobbil'alamin. Terima kasih atas semua yang Engkau berikan. Bimbing haba agar senantiasa menjemput rizki secara halal dan thayyib. Aamiin.

Selasa, 05 Januari 2016

Kita adalah Ibu

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering melihat foto-foto di Instagram dengan hashtag #SAHMlife atau #SAHM. Saya berpikir keras, “Hmm….itu maksudnya apa ya?” agak kepo sih ya, kalo LOL kan Loud of Laugh gitu ya, suatu singkatan yang sudah common dan rata-rata orang tahu maksudnya. Hingga akhirnya saya membaca suatu artikel di internet tentang bahasan SAHM, WAHM dan Working Mom. I got the idea!
Ternyata SAHM itu singkatan dari Stay at Home Mom, dan saya menduga kuat WAHM adalah singkatan dari Working at Home Mom, kalau begitu mungkin saya bisa dibilang kategori WAHM. Monggo di like fanpage-nya ya buibu lapak dagangan saya #lol Qeana Kids dan follow Instagram @Qeana_kids juga #teuteupjualan. Hehe..
Entah siapa yang pertama kali memunculkan istilah-istilah tersebut, namun saya berpendapat bahwa pengelompokan ibu-ibu atas suatu pilihan dalam hidupnya hanya akan memperkeruh suasana. Hmm…agak lebay kali ya menyatakan seperti itu, tapi ya saya menyatakan seperti itu karena beberapa kali banyak ibu-ibu yang beradu mulut tentang status ibu pekerja yang dianggap lalai terhadap anak, namun ketika ibu-ibu yang memilih untuk tinggal di rumah mengurus anaknya seharian mengkategorikan sebagai Full Time Mother (FTM), working mom tidak terima karena merasa ibu-ibu tersebut juga sepenuh waktu menjadi ibu, maka dari itu lahirlah istilah SAHM. Daan ternyata tidak lepas dari itu, ketika ibu-ibu yang memilih tinggal di rumah tetap saja menghabiskan waktu selain untuk mengurus anak, ibu-ibu tersebut tidak lagi dikategorikan SAHM melainkan WAHM. Hmmm…cukup membingungkan bukan singkatan-singkatan tersebut? Padahal semuanya sama yaitu IBU.
Tidak banyak saya temui, anak yang diurus langsung oleh ibunya tetap berprilaku buruk sedangkan anak yang diurus oleh ibu pekerja tetap dapat berprestasi dengan baik. Pada intinya, saya beranggapan bahwa keberhasilan seorang anak ditentukan oleh sejauhmana Ibu mempersiapkan anak dengan membekali sejumlah pertahanan agar tidak mudah terbawa arus oleh zaman dan terpengaruh oleh lingkungan. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh ibu yang terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu agar bisa menyuntikkan banyak hal-hal positif kepada anak. Intinya, hanya teko yang berisi yang dapat menuangkan air ke dalam cangkir, saya menganalogikan teko sebagai ibu dan cangkir sebagai anak. Tentunya, agar cangkir terus terisi, teko pun harus tetap terisi. Jadi, intinya Ibu itu harus terus ON UPDATERnya sama kayak aplikasi hehe….
Saya dan suami pernah mendiskusikan perihal ini, kami berpendapat bahwa keputusan suatu rumah tangga yang melahirkan kondisi seorang Ibu menjadi ibu pekerja atau tidak adalah buah dari keputusan yang dihasilkan dari dua kepala (suami dan istri). Jadi, intinya konsekuensi akan keputusan tersebut sudah dipikirkan dengan matang. Hukum positif ya alias husnudzanya sama orang. Hihihi…

Apapun pilihannya, tetaplah kita saling mendukung satu sama lain, tetaplah saling mencerahkan satu sama lain. Dan tetaplah UPGRADE diri sebagai ibu. Lahirkan versi  yang lebih baik pada anak kita karena anak adalah investasi dunia akhirat.


#selfreminder #ODOPday2

Senin, 04 Januari 2016

Gak sayang sama gelarnya?

I predict that the title of this post will be the question of the year.

Alhamdulillah setelah 3 tahun berkutat dengan permasteran, akhirnya awal november yang lalu dapat tanggal lulus di tesis yang sudah dijilid. Tapi dengan segunung kegiatan di akhir pekan, alhasil sampai dengan postingan ini dibuat saya belum bisa urus urus lagi untuk SKL , daftar wisuda & ijazah. Suami bilang nanti aja yang penting udah lulus. Hmmm...dianggurin hampir 2 bulan.

Kesibukan jadi ibu baru dan jalanin bisnis online cukup menjauhkan dari pikiran untuk apply kerja lagi. Karena memang saya sendiri sudah membuang jauh pikiran untuk kerja kantoran. Alasannya saya tidak ingin jauh dengan ihsaan. Saya belum terbayang untuk meninggalkan ihsaan di rumah dan menitipkan ihsaan pada orang lain dalam waktu lebih dari 1 jam. Maka dari itu, saya hanya terpikirkan untuk mengembangkan usaha saya. Dan ketika saya meminta pinjaman modal pada suami, tanggapan dia adalah saya diminta untuk membuat business plan lengkap dengan analisis keuangannya juga. Ya, intinya selayaknya business plan pada umumnya. Huhuhu....rasanya saya ingin menangis keras. Kok perhitungan banget sih sama istri. Ketika saya menimpali dengan kalimat itu, komentar suami saya sangat singkat namun makcleb "apa ga sayang gelar MM-nya? Ini saatnya pembuktian ilmu kamu bisa bermanfaat apa engga."

Saya akhirnya terdiam dan berpikir, "benar, ini adalah waktunya untuk upgrade diri. Bisnis yang baik adalah bisnis yang terencana. ". Dengan waktu yang tersisa 4 hari lagi, peer saya masih banyak banget. Kalau saya mundur menyerahkan BP ini maka suntikan  modal yang dijanjikan akan berkurang nominalnya. Huhuhuhu...

Bloggers, doakan saya ya!

Selasa, 22 Desember 2015

Menjadi Ibu Baru

Handphone menjaadi sangat lelet, ternyata begitu banyak video yang merekam pertumbuhan Ihsaan sampai dengan usianya yang besok genap 6 bulan. Alhamdulillah. Allah yang kuasa memelihara anak yang diamanahkan kepada kami. Entah kenapa ketika melihat video ihsaan waktu masih berusia 2-3 bulan (terlihat dari kepalanya yang masih plontos setelah cukuran pasca aqiqah) membuat saya menangis. Menangis haru tepatnya . Tidak terasa Ihsaan besok akan masuk pada tahapan MP-ASI. Saya sendiri masih merasa sangat miskin ilmu sebagai seorang Ibu. Belum banyak hal positif yang bertambah pada diri saya. Mengidamkan menjadi ibu sholihah yang menjadi panutan anak-anaknya kelak, tapi dalam ibadah banyak sekali mengalami kemunduran.

Ya Alloh izinkan hamba untuk terus meng-upgrade diri menjadi lebih baik. Izinkan hamba untuk banyak belajar. Aamiin

Senin, 27 Oktober 2014

Thank you Alloh :)

Alhamdulillah segala puji bagi Alloh pemilik semesta alam. Setelah sebelumnya kalau cek pakai test pack muncul satu garis, minggu kemarin tepatnya tanggal 21 Oktober 2014, muncul 2 garis yang artinya positif. rasa haru bahagia, kaget, dan masih tak percaya atas apa yang telah Alloh berikan kepada kami. Air mata mengalir ketika sholat adalah bentuk kebahagiaan yang tak terperi. Benarlah adanya ketika kita memasrahkan semuanya kepada Alloh, maka Alloh akan memberikan jawaban terbaik bagi ummat-Nya.
Saya ingin bercerita tentang kisah penantia kami. Setiap mendekati tanggal datang bulan, saya selalu dihantui rasa takut kalau saya akan haid lagi yang artinya saya belum hamil. Mungkin kekhawatiran ini salah satunya timbul setelah banyak pertanyaaan-pertanyaan dari saudara dan teman-teman. Pada postingan sebelumnya saya pernah bercerita bahwa pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar tersebut mengganggu saya. Hingga akhirnya hal yang membuat suami saya sedih adalah melihat kekhawatiran saya yang akan diakhiri dengan sebuah tangisan. Ketika saya haid saya tidak kuat untuk tidak menangis. Saya lupa bahwasanya hamil atau tidak bukan perkara sudah sejauh mana kita ikhtiar, namun sudah sejauh mana kita tawakkal dan menyerahkan segalnya kepada Alloh. Alhamdulillah, dengan izin Alloh saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga ketika datang menengok sahabat saya yang baru saja melahirkan dan bertepatan saat itu dia menggelar aqiqah anaknya. Sahabat saya bercerita bahwa sebelumnya dia pernah didiagnosa susah hamil oleh dokter kandungan, namun ternyata ketika dia pasrah kepada putusan Alloh, dia akhirnya dikaruniai anak yang tampan (insyaAlloh sholeh. Aamiin). Dari situ saya ambil pelajaran bahwa tawakkal kepada Alloh adalah solusi dari segalanya. Apabila Alloh telah menilai kita pantas menjadi orang tua dan kita telah berusaha memantaskan diri menjadi orang tua, insyaAlloh amanah itu kemudian akan dititipkan kepada kita. Alhamdulillah. Segala puji bagi Alloh yang menguasai hidup dan mati.

Ya Alloh, semoga janin yang telah Engkau titipkan dalam rahim hamba dapat berkembang dengan baik, sehat dan kuat dan kemudian lahir menjadi bayi yang sehat dan normal. Semoga kami dapat menjadi orang tua yang sholeh dan sholehah dan dapat membimbing anak yang Engkau titipkan menjadi anak yang sholeh/sholehah dan menegakkan syariah-Mu. Aamiin yaa robbal alamiin. :)