Di bawah ini materi tentang Ar-Rahn (gadai). Nah, sekarang coba sahabat cari beberapa kesamaan antara gadai yang diterapkan di pegadaian dan pegadaian syariah. Kalau misalnya gadai itu boleh dilakukan, kenapa muncul pegadaian syariah ketika pegadaian sudah ada…?
Definisi: Menjadikan suatu barang bernilai menjadi jaminan atas hutang sehingga bila hutang terselesaikan barang tersebut dikembalikan kepada pemiliknya.
Menahan suatu barang untuk dijadikan jaminan dalam pengambilan hutang kepada seseorang agar menjadi landasan yang kuat dalam pemberian hutang dan sebagai tanda kesungguhan.
Seseorang menyerahkan barang kepada pemberi hutang sebagai jaminan atas hutang yang diberikan kepadanya
Landasan
Hadist Nabi riwayat Bukhari dan Muslim dari A’isyah, Ia berkata:
اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَّلَمَ اشْتَرَى طَعَمًا مِنْ يَهُدِيٌ اِلىَ اَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِْيدٍ
“ Sesungguhnya Rasulullah saw pernah membeli makanan dengan berhutang dari seorang Yahudi, dan Nabi mengggadaikansebuah baju besi kepadanya.”
Hadist riwayat Syafi’Islam, Daruquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah:
لاَ يُغْلَقُ الَّرهْنُ مِنْ صَاحِبِهِ الَّذِي َرهَنُهُ, لَهُ غُرْمُهُ
“ Tidak terlepas kepemilikan gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan resikonya.”
Rukun
1. Kedua orang yang berakad (Mutaaqidain)
2. Hutang (ad-Dain)
3. Barang yang digadaikan (Marhun)
Syarat
1. Kedua orang yang berakad
a. Orang yang berakal
b. Baligh
2. Hutang
a. Hutang dalam tanggungan
b. Ada sebab yang membuat berhutang
c. Hutang lebih kecil dari yang dijaminkan
d. . . . . .
3. Barang yang digadaikan
a. Memungkinkan barang mudah untuk dijual
b. Barang tidak rusak (tahan lama)
c. Barang itu mempunyai nilai atau bermanfaat
d. Baqrang harus diserahkan ke penerima gadai
Batal Rahn
1. Apabila barang kembali ketangan Penggadai dengan persetujuan penerima gadai
2. Terselesaikannya hutang
Permasalahan
1. Pemanfaatan barang gadaian
2. Apabila penggadai tidak mampu membayar hutang
3. Bila penggadai meninggal dunia
Jawaban Permasalah
1. Penerima gadai (murtahin) memanfaatkan gadaian, namun bila barang gadaian memerlukan pemeliharaan yang mengakibatkan adanta pengeluaran biaya sebagai konselkuensinya penerima gadaia boleh memanfaatkan barang tersebut. (Fikih Sunnah 12 hal 153) dan bila barang gadaian itu menghasilkan sesuatu misalkan ternak yang menghasilkan anaknya maka ini menjadi milik si penggadai.
2. Barang gadaian tersebut dijual. Bila hasil penjualan melebihi hutang penggadai, maka kelebihan tersebut harus dikembalikan kepada penggadaia. Demikian pula sebaliknya bila nilai penjualan lebih kecil dari hutang, maka penggadai bertanggungjawab dalam arti harus membayar kekurangan hutangnya tersebut. (dalil Fikih Sunnah jil 12)
3. Bila penggadai meninggal, maka hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya dan permasalah tidak berubah hanya berubah kepemilikan hutang dari penggadai kepada ahli waris.
materi ini didapatkan dari teman saya yang ada di tazkia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar