Minggu, 02 Maret 2014

Jadi Muslim JANGAN JOROK!!!



Sabtu kemarin, setelah seharian aktivitas mengikuti kuliah umum seminar, cari bahan di perpustakaan tesis kemudian mengikuti seminar hasil di kampus, saya memutuskan untuk menunggu dan sholat Maghrib di masjid kampus “Al-Ghifari” namanya. Saya sangat kesal sekali melihat kondisi masjid yang sangat kotor. Tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak terkait, tetapi mengajak pihak-pihak terkait dan para sahabat muslim lainnya untuk ikut berpartisipasi dalam memperbaiki identitas sebagai muslim/muslimah yang baik yang mencintai akan kebersihan. Karena bukankan Kebersihan adalah sebagian dari Iman???
            Sahabat, apakah pantas kamar kecil dan tempat wudhu di masjid dipenuhi dengan sampah, seperti tisu bekas pakai, pembalut, dan hal lainnya yang tidak perlu saya sebutkan. Dan selain itu, bau pesing yang sangat mengganggu indra penciuman. Dan ketika saya naik ke lantai atas tempat sholat wanita, tempat sampahnya terguling dan tentunya sampahnya jadi berserakan. Astaghfirulloh, maafkan hamba yaa Alloh, karena saat itu saya hanya menegakkan kembali tempat sampah itu, bukan merapikannya. Alhamdulillah, akhwat di belakang saya membantu merapikannya. Saya bersyukur saat itu. Akan tetapi, mukenanya sangat bau. Hmmm….bukan wakaf mukena baru solusinya, tetapi manajemen mukena yang lebih baik yaitu cuci secara rutin.
Setelah saya sholat, di bawah tangga saya melihat tempat sampah dengan isinya yang sudah terurai kemana-mana, dan tak jauh dari situ sekumpulan aktivis kampus sedang berdiskusi. Akhwatifillah, kenapa merapikan sisa makananmu begitu sulit??? Isi tempat sampah tersebut sama dengan kotak makanan yang belum dimakan dimana terletak di dekat akhwat-akhwat tersebut. Maaf kalau perkiraan saya keliru. Kalau saya menegur, saya hanya akan emosi dan menjadi manusia TMDL alias Talk More Do Less. Saya kemudian menghampiri suami saya dan mengajaknya berdiskusi (cenderung menggerutu sih…heu).
            “Temenin ketemu DKMnya yuuk! Aku minta uang dong 100ribu aja dulu sama ambil amplop di mobil.”
Suami saya tentu bertanya, “buat apa sayang?”
“Biar mukenanya di-laundry. Bau bangeet. Bukan mukena baru yang dibutuhin masjid, tapi mukena bersih.”
Suami saya tersenyum dan dengan tenang meraih tangan saya untuk menenangkan”Kamu jangan offensive. Nanti yang ada mereka malah tersinggung. Mungkin bukan disitu letak akar permasalahannya. Kamu bicarakan dulu dengan DKMnya secara tenang. Kalau perlu kamu ajak temen-temen kuliah kamu untuk ikut partisipasi. Dengan uang yang lebih banyak, mungkin akan terbentuk perubahan yang lebih baik.”
Ya, benar juga. Suami saya kemudian memberikan ide untuk mengumpulkan teman-teman yang mau berpartisipasi. Saya sudah mulai screening orang-orang yang akan saya mintakan donasi. Hehehe…
Ide dari suami saya adalah:

  1. Beli 2 jenis mukena dengan warna berbeda, misalnya 5 mukena warna dan 5 mukena putih atau intinya buat mukena yang digunakan di masjid menjadi 2 kelompok. 
  2.  Buat jadwal pakai dan cuci mukena, misalnya pada saat minggu 1 mukena warna yang dipakai, dan mukena putih menjadi cadangan. Untuk minggu ke-2 mukena putih yang dipakai dan mukena warna dicuci. Ketika warna mukena tidak sesuai dengan jadwal berarti jadwal mencuci tidak dijalankan lagi. Sederhana dan menurut saya efektif. Hal itu sebagai control bagi para pengurus.


Jujur saya memperkirakan tidak terawat dan kotornya masjid karena tidak ada yang bertanggung jawab akan kebersihan masjid alias tidak adanya petugas kebersihan. Apakah hal ini perlu disampaikan ke Bapak Rektor ya?

Hal ini sangat signifikan berbeda dengan mushola kampus MB yang bersih dan mukenanya dicuci 2 kali dalam seminggu. Saya berharap, MB mau melakukan perawatan masjid kampus “Al-Ghifari” juga. Walaupun mungkin sebenarnya maintenance masjid kampus tidak berada di dalam cakupan tanggung jawab MB.

Buat para sahabat, kakak-kakak, adik-adik, om tante, dan para pembaca yang ingin ikut sumbang saran dan berpartisipasi dengan program perdana yaitu mukena bersih yang saya rancang. Hubungi saya ya melalui email pribadi:

Jazakumulloh khairan kastiro

Tidak ada komentar:

Posting Komentar