Jumat, 11 April 2014

Anak adalah Amanah

Siang ini saya makan siang dengan sahabat sholihah saya di kantin Kementrian Imigrasi di Kuningan yang lokasinya dekat dengan kantor kami. Sepulangnya dari kantin, kami menuju Kuningan city. Di perjalanan, sahabat saya menceritakan isi ceramah Ustadz Bachtiar Nasir mengenai peranan seorang Ibu yang dilihatnya di Youtube. Hal yang diceritakannya masih terngiang yaitu anak itu adalah titipan, tetapi malah dititipkan lagi ke pembantu. Padahal sejatinya anak adalah amanah yang harus dijaga. Tantangan di masa depan anak kita akan lebih berat. Tanda-tanda akhir zaman sudah terlihat saat ini dimana para pemimpinnya banyak yang telah zalim. Bagaimana jadinya anak yang dididik pembantu akan menjadi sosok yang tangguh di masa yang akan datang? Rasanya ingin menjerit. Benar, saya pernah berbincang hal ini dengan suami saya. Minimal saya menginginkan anak saya seperti saya bahkan lebih baik dari saya. Tantangan bagi seorang ibu di masa kini dan masa yang akan datang akan lebih berat. Tantangan dimana teknologi akan menjadi sahabat dekat dari anak-anak. Bagaimana cara mengontrol apa yang menjadi tontonan mereka ketika akses informasi begitu terbuka luas? Banyak berita belakangan ini dimana anak remaja melakukan hal yang mencelakakan orang lain hanya karena urusan sepele, zina bahkan aborsi. Saya mengira hal tersebut dikarenakan pengawasan orang tua yang kurang dan remaja tersebut menonton film atau membaca komik yang menceritakan hal tersebut yang akhirnya menjadi tuntunan mereka. Saya tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada anak-anak saya. Naudzubillahimindzalik.

Saya ingin sekali resign dari pekerjaan saat ini dan melakukan aktivitas lainnya yang masih bisa menyeimbangkan kehidupan saya sebagai seorang istri dan ibu nantinya serta menjadi wanita karir. Banyak teman-teman saya yang sudah memutuskan untuk menjadi truly housewife. Dan saya kagum kepada mereka. Teman-teman saya lebih rajin ikut majlis ta'lim, karena pada hakikatnya ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya sehingga ibu perlu secara terus menerus menimba ilmu agar kelak dapat diajarkan pada anak-anaknya. Ada juga yang menjadi mompreneur. Hal-hal tersebut menjadi inspirasi bagi saya.

Saya meyakinkan pada diri bahwa saya tidak mungkin selamanya menjadi karyawan dan tidak ingin. PR (Pekerjaan Rumah) saya dari bulan yang lalu adalah membuat EXIT PLAN. Semoga malam ini saya bisa menemukan jalan keluarnya.

Yaa Hayyu Yaa Qayyum birohmatika Astagitsu ashlihli sya'ni kullahu wa laa takilni thorfatan 'aini. Aaamiin. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar