Sabtu, 27 Maret 2010

T.E.N.G.K.U.L.A.K “The Hero”

Hari kemarin ketika saya mengunjungi rumah petani non penerima PUAP, saya menanyakan “Kenapa alasan Bapak tidak mengajukan pinjaman ke LKMA?”
Jujur saja ketika Bapak tersebut mengutarakan alasannya, saya tidak terlalu heran karena pada umunya dari petani yang pernah saya kunjungi memiliki jawaban yang serupa yaitu, takut tidak bisa membayar.

Kemudian saya mencoba menjelaskan bagaimana prosedur yang dijalankan oleh LKMA, dimana
LKMA merupakan lembaga pengelola dana PUAP untuk desa tersebut. Adapun prosedur yang yang saya jelaskan adalh mengenai pola syariah yang diterapkan serta kemudahan dalam membayar dengan cara menabung, sehingga berapa pun jumlah uang yang disetorkan tidak baku.
Kemudian,berniat untuk mengakhiri kunjungan saya waktu itu, saya kembali menanyakan "Apakah Bapak berniat untuk meminjam setelah mengetahui hal ini?"
Bapak tersebut menjawab,"Nanti saya akan tanyakan pada orang LKMA, sebenarnya saya berminat. Tapi sejauh ini kebutuhan untuk bertani telah terpenuhi dari tengkulak. Ini tengkulaknya. Bapak ini mah Bos. Cuman nanti padi hasil panen harus dijual ke tengkulak. Saya saja pernah minjam sampai 600 ribu."
Kemudian sang istri petani ikut menimpali dengan, "pinjam uang ke Bapak yang satu ini, tidak seperti ke tengkulak yang lain. Apabila harga satu kwintal memang 200 ribu, tidak lantas dipotong jadi 180 ribu. Tidak seperti tengkulak yang lain"
Bapak tengkulak tersebut pun setelah cukup menyimak lama perbincangan antara saya dengan Bapak dan Ibu petani, akhirnya ikut bergabung setelah lama dirinya diperbincangkan.
"Teh, kalau saya berikir kasihan petani kalau harus jual beras ini sendiri. Kalau boleh saya tahu, apa kantor apa itu namanya (BULOG-red) bisa menerima gabah petani secara individu?"
Saya hanya bisa tersenyum menanggapi pertanyaan bapak tengkulak tersebut, karena pada kenyataannya meskipun di kantor BULOG terpampang spanduk yang besar "KAMI SIAP MENERIMA GABAH DARI PETANI". Toh pada kenyataannya cost untuk transportasi petani tidak diperhitungkan. Wajar saja apabila Tengkulak masih menjadi TOP OF MIND para petani, terlebih pada saat panen dan masa tanam yang akan datang. Begitu seterusnya..
Untung saja ketika saya menjelaskan tentang prosedur pembiayaan di LKMA tidak coba saya bandingkan dengan pinjaman dari tengkulak. He....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar