Menempatkan diri sebagai orang lain dalam hal kebutuhan yang seringkali bercampur keinginan..menurutnsaya itu menjadi perspektif yang keliru. Seringkali saya menemempatkan hal tersebut. dalam hati saya berkata, “Dia punya X, saya kayaknya butuh deh.” Untuk meraba-raba kebutuhan saya sendiri saja, saya harus melihat orang lain. Hal ini saya coba analogikan dengan cerita. Pada sebuah toko pakaian yang ramai dikunjungi orang-orang. Terdapat satu pakaian yang indah sekali, hanya ada dua potong pakaian tersebut dengan berbeda warna. Jadi, tidak masalah kalau membelinya karena tidak akan menjadi barang yang pasaran. Akan tetapi, kedua pakaian tersebut berukuran XL. Ternyata toko yang dimasuki adalah toko pakaian khusus untuk orang-orang yang punya ukuran badannya besar. Pada saat ada pembeli yang membeli pakaian tersebut, dia mencoba pakaian tersebut, dan membuat si pemakainya menjadi sangat cantik. Anda tertarik untuk membelinya, “Wah, bagus banget. Pasti cocok buat saya.”. Tapi Anda lupa bahwa ukuran pakaian anda adalah SS. Ketika Anda memakainya, apa yang Anda bayangkan ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi, karena Anda sekarang mennjadikan bahwa membeli barang tersebut menjadi kebutuhan Anda kemudian mencoba meyakinkan diri, “Yah,gampang aja kan, tinggal dikecilin yang bagian ini, bagian ini, bagian ini, bagian ini juga. Trus kayaknya bagian ini juga, bagian ini juga……”. Tanpa Anda sadari bahwa Anda sepertinya telah membuat pakaian sendiri, karena hamppir keseluruhan dari pakaian tersebut harus Anda modifikasi.
Ketika merasakan sebuah keinginan, coba Anda sadari apakah Anda benar-benar membutuhkannya??? Ketika menjadikannya sebagai sebuah kebutuhan terkadang kita lupa akan kapasitas yang dimiliki. Mungkin hal itu yang perlu Anda lihat kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar