Lebaran kemarin adalah moment
pertama dan terakhir (sampai saat ini) dia bisa berkumpul bersama keluarga di kampung
halamannya sejak dia menikah 6 tahun yang lalu. Apakah mungkin itu adalah suatu
pertanda bahwa ke depannya dia akan tinggal jauh dari kami keluarganya?
Hal yang jelas adalah dalam
hitungan jam ke depan, kakakku akan pergi untuk tinggal di kampung halaman
kakak ipar. Ah, menuliskan hal ini saja membuat mataku berderai air mata. Dia
adalah kakak yang paling aku sayang dan dia adalah orang yang sering
menolongku. Aku ingat sekali memori saat kami masih kecil, aku sering mengerjai
dan mem-bully-nya, namun dia tetap
menjadi malaikat penolongku. Waktu kuliah, ketika uang jajanku sudah makin
menipis, aku mengirim pesan padanya, dan tiba-tiba dia mengabarkan sudah
mengirimkan uang padaku, begitupun ketika aku sudah bekerja. Dia menjadi orang
yang memberi apresiasi atas pencapaianku mendapat pekerjaan, padahal gajiku
sangat kecil. Saking kecilnya, hingga untuk membayar uang kost pun dia yang
membayarkan di bulan pertama dan memberi subsidi pada bulan-bulan berikutnya. Dia
adalah kakak yang selalu ingin mendandaniku walaupun seringkali aku tidak
menurut karena pilihannya terlalu modis. Ranah inilah yang sering membuatku
berdebat dengannya. Dia sering aku koreksi dan dia tidak marah. Ah…dia adalah
kakakku yang sangat penyabar. Up and down dalam hidupnya benar-benar seperti
roll coaster. Satu hal yang aku ingin tiru darinya adalah dia sangat menyayangi
keluarga kecilnya dengan sepenuh hati. Di balik tubuh mungilnya, dia adalah
sosok yang tegar dan kuat. Masalah yang dihadapinya bukanlah hal yang kecil,
namun dia tetap tabah.I’am a proud sister.
Aku mencoba untuk biasa saja
dengan kepergiannya pada lusa nanti, namun ternyata aku tidak bisa. Walaupun
pertengahan tahun ini dia akan kembali ke Indonesia, namun membayangkan jarak
antara kami semakin jauh membuatku semakin berat melepasnya. Sebelumnya ketika
dia tinggal di Palembang pun kami lebih sering berkomunikasi secara virtual.
Bukan tidak bisa kami berkomunikasi secara virtual ketika dia ada di Inggris.
Namun, ….Ah, aku akan sangat merindumu.
Ya Alloh, pintaku…Semoga Engkau
senantiasa meletakkan taufik dan hidayah bagi Kakakku dan keponakanku. Peluk
erat mereka dalam ketaatan pada-Mu, Aamiin yaa robbal alamiin.
Allohumma innaka ta’lamu ana
hadzihil qulub, qodij tama’at ‘ala mahabbatik wal taqot ‘ala tho’atik wa
tawahhadat ‘ala da’watik wa ta’ahadat ‘ala nusyroti syari’atik.
Fawatsiqillahumma robithotaha wa adim wuddaha wahdiha subulaha wamla’ha
binurikkaladzi la yahub washroh suduroha bifaydil Imanibik wa jamilit tawakkuli
‘alayk wa ahyiha bi ma’rifatik wa ‘amitha ‘ala syahadatik fii sabilik. Innaka
ni’mal mawla wa ni’ma natsir. Allohumma Aamiin. Wa sholillahumma ‘ala sayyidina
Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa salim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar