Sabtu, 09 Januari 2016

I don’t want to say good bye, but I want to say “ see you soon’

Lebaran kemarin adalah moment pertama dan terakhir (sampai saat ini) dia bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halamannya sejak dia menikah 6 tahun yang lalu. Apakah mungkin itu adalah suatu pertanda bahwa ke depannya dia akan tinggal jauh dari kami keluarganya?

Hal yang jelas adalah dalam hitungan jam ke depan, kakakku akan pergi untuk tinggal di kampung halaman kakak ipar. Ah, menuliskan hal ini saja membuat mataku berderai air mata. Dia adalah kakak yang paling aku sayang dan dia adalah orang yang sering menolongku. Aku ingat sekali memori saat kami masih kecil, aku sering mengerjai dan mem-bully-nya, namun dia tetap menjadi malaikat penolongku. Waktu kuliah, ketika uang jajanku sudah makin menipis, aku mengirim pesan padanya, dan tiba-tiba dia mengabarkan sudah mengirimkan uang padaku, begitupun ketika aku sudah bekerja. Dia menjadi orang yang memberi apresiasi atas pencapaianku mendapat pekerjaan, padahal gajiku sangat kecil. Saking kecilnya, hingga untuk membayar uang kost pun dia yang membayarkan di bulan pertama dan memberi subsidi pada bulan-bulan berikutnya. Dia adalah kakak yang selalu ingin mendandaniku walaupun seringkali aku tidak menurut karena pilihannya terlalu modis. Ranah inilah yang sering membuatku berdebat dengannya. Dia sering aku koreksi dan dia tidak marah. Ah…dia adalah kakakku yang sangat penyabar. Up and down dalam hidupnya benar-benar seperti roll coaster. Satu hal yang aku ingin tiru darinya adalah dia sangat menyayangi keluarga kecilnya dengan sepenuh hati. Di balik tubuh mungilnya, dia adalah sosok yang tegar dan kuat. Masalah yang dihadapinya bukanlah hal yang kecil, namun dia tetap tabah.I’am a proud sister.
Aku mencoba untuk biasa saja dengan kepergiannya pada lusa nanti, namun ternyata aku tidak bisa. Walaupun pertengahan tahun ini dia akan kembali ke Indonesia, namun membayangkan jarak antara kami semakin jauh membuatku semakin berat melepasnya. Sebelumnya ketika dia tinggal di Palembang pun kami lebih sering berkomunikasi secara virtual. Bukan tidak bisa kami berkomunikasi secara virtual ketika dia ada di Inggris. Namun, ….Ah, aku akan sangat merindumu.
Ya Alloh, pintaku…Semoga Engkau senantiasa meletakkan taufik dan hidayah bagi Kakakku dan keponakanku. Peluk erat mereka dalam ketaatan pada-Mu, Aamiin yaa robbal alamiin.
Allohumma innaka ta’lamu ana hadzihil qulub, qodij tama’at ‘ala mahabbatik wal taqot ‘ala tho’atik wa tawahhadat ‘ala da’watik wa ta’ahadat ‘ala nusyroti syari’atik. Fawatsiqillahumma robithotaha wa adim wuddaha wahdiha subulaha wamla’ha binurikkaladzi la yahub washroh suduroha bifaydil Imanibik wa jamilit tawakkuli ‘alayk wa ahyiha bi ma’rifatik wa ‘amitha ‘ala syahadatik fii sabilik. Innaka ni’mal mawla wa ni’ma natsir. Allohumma Aamiin. Wa sholillahumma ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa salim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar