Selasa, 05 Januari 2016

Kita adalah Ibu

Beberapa waktu belakangan ini, saya sering melihat foto-foto di Instagram dengan hashtag #SAHMlife atau #SAHM. Saya berpikir keras, “Hmm….itu maksudnya apa ya?” agak kepo sih ya, kalo LOL kan Loud of Laugh gitu ya, suatu singkatan yang sudah common dan rata-rata orang tahu maksudnya. Hingga akhirnya saya membaca suatu artikel di internet tentang bahasan SAHM, WAHM dan Working Mom. I got the idea!
Ternyata SAHM itu singkatan dari Stay at Home Mom, dan saya menduga kuat WAHM adalah singkatan dari Working at Home Mom, kalau begitu mungkin saya bisa dibilang kategori WAHM. Monggo di like fanpage-nya ya buibu lapak dagangan saya #lol Qeana Kids dan follow Instagram @Qeana_kids juga #teuteupjualan. Hehe..
Entah siapa yang pertama kali memunculkan istilah-istilah tersebut, namun saya berpendapat bahwa pengelompokan ibu-ibu atas suatu pilihan dalam hidupnya hanya akan memperkeruh suasana. Hmm…agak lebay kali ya menyatakan seperti itu, tapi ya saya menyatakan seperti itu karena beberapa kali banyak ibu-ibu yang beradu mulut tentang status ibu pekerja yang dianggap lalai terhadap anak, namun ketika ibu-ibu yang memilih untuk tinggal di rumah mengurus anaknya seharian mengkategorikan sebagai Full Time Mother (FTM), working mom tidak terima karena merasa ibu-ibu tersebut juga sepenuh waktu menjadi ibu, maka dari itu lahirlah istilah SAHM. Daan ternyata tidak lepas dari itu, ketika ibu-ibu yang memilih tinggal di rumah tetap saja menghabiskan waktu selain untuk mengurus anak, ibu-ibu tersebut tidak lagi dikategorikan SAHM melainkan WAHM. Hmmm…cukup membingungkan bukan singkatan-singkatan tersebut? Padahal semuanya sama yaitu IBU.
Tidak banyak saya temui, anak yang diurus langsung oleh ibunya tetap berprilaku buruk sedangkan anak yang diurus oleh ibu pekerja tetap dapat berprestasi dengan baik. Pada intinya, saya beranggapan bahwa keberhasilan seorang anak ditentukan oleh sejauhmana Ibu mempersiapkan anak dengan membekali sejumlah pertahanan agar tidak mudah terbawa arus oleh zaman dan terpengaruh oleh lingkungan. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh ibu yang terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu agar bisa menyuntikkan banyak hal-hal positif kepada anak. Intinya, hanya teko yang berisi yang dapat menuangkan air ke dalam cangkir, saya menganalogikan teko sebagai ibu dan cangkir sebagai anak. Tentunya, agar cangkir terus terisi, teko pun harus tetap terisi. Jadi, intinya Ibu itu harus terus ON UPDATERnya sama kayak aplikasi hehe….
Saya dan suami pernah mendiskusikan perihal ini, kami berpendapat bahwa keputusan suatu rumah tangga yang melahirkan kondisi seorang Ibu menjadi ibu pekerja atau tidak adalah buah dari keputusan yang dihasilkan dari dua kepala (suami dan istri). Jadi, intinya konsekuensi akan keputusan tersebut sudah dipikirkan dengan matang. Hukum positif ya alias husnudzanya sama orang. Hihihi…

Apapun pilihannya, tetaplah kita saling mendukung satu sama lain, tetaplah saling mencerahkan satu sama lain. Dan tetaplah UPGRADE diri sebagai ibu. Lahirkan versi  yang lebih baik pada anak kita karena anak adalah investasi dunia akhirat.


#selfreminder #ODOPday2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar