Beberapa waktu belakangan ini,
saya sering melihat foto-foto di Instagram dengan hashtag #SAHMlife atau #SAHM.
Saya berpikir keras, “Hmm….itu maksudnya apa ya?” agak kepo sih ya, kalo LOL
kan Loud of Laugh gitu ya, suatu singkatan yang sudah common dan rata-rata
orang tahu maksudnya. Hingga akhirnya saya membaca suatu artikel di internet
tentang bahasan SAHM, WAHM dan Working Mom. I
got the idea!
Ternyata SAHM itu singkatan dari Stay at Home Mom, dan saya menduga kuat
WAHM adalah singkatan dari Working at
Home Mom, kalau begitu mungkin saya bisa dibilang kategori WAHM. Monggo di
like fanpage-nya ya buibu lapak dagangan saya #lol Qeana Kids dan follow Instagram
@Qeana_kids juga #teuteupjualan. Hehe..
Entah siapa yang pertama kali
memunculkan istilah-istilah tersebut, namun saya berpendapat bahwa
pengelompokan ibu-ibu atas suatu pilihan dalam hidupnya hanya akan memperkeruh
suasana. Hmm…agak lebay kali ya menyatakan seperti itu, tapi ya saya menyatakan
seperti itu karena beberapa kali banyak ibu-ibu yang beradu mulut tentang
status ibu pekerja yang dianggap lalai terhadap anak, namun ketika ibu-ibu yang
memilih untuk tinggal di rumah mengurus anaknya seharian mengkategorikan
sebagai Full Time Mother (FTM), working mom tidak terima karena merasa ibu-ibu
tersebut juga sepenuh waktu menjadi ibu, maka dari itu lahirlah istilah SAHM.
Daan ternyata tidak lepas dari itu, ketika ibu-ibu yang memilih tinggal di
rumah tetap saja menghabiskan waktu selain untuk mengurus anak, ibu-ibu
tersebut tidak lagi dikategorikan SAHM melainkan WAHM. Hmmm…cukup membingungkan
bukan singkatan-singkatan tersebut? Padahal semuanya sama yaitu IBU.
Tidak banyak saya temui, anak
yang diurus langsung oleh ibunya tetap berprilaku buruk sedangkan anak yang
diurus oleh ibu pekerja tetap dapat berprestasi dengan baik. Pada intinya, saya
beranggapan bahwa keberhasilan seorang anak ditentukan oleh sejauhmana Ibu
mempersiapkan anak dengan membekali sejumlah pertahanan agar tidak mudah
terbawa arus oleh zaman dan terpengaruh oleh lingkungan. Semua itu hanya bisa
dilakukan oleh ibu yang terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sebagai ibu
agar bisa menyuntikkan banyak hal-hal positif kepada anak. Intinya, hanya teko
yang berisi yang dapat menuangkan air ke dalam cangkir, saya menganalogikan
teko sebagai ibu dan cangkir sebagai anak. Tentunya, agar cangkir terus terisi,
teko pun harus tetap terisi. Jadi, intinya Ibu itu harus terus ON UPDATERnya
sama kayak aplikasi hehe….
Saya dan suami pernah
mendiskusikan perihal ini, kami berpendapat bahwa keputusan suatu rumah tangga
yang melahirkan kondisi seorang Ibu menjadi ibu pekerja atau tidak adalah buah
dari keputusan yang dihasilkan dari dua kepala (suami dan istri). Jadi, intinya
konsekuensi akan keputusan tersebut sudah dipikirkan dengan matang. Hukum positif
ya alias husnudzanya sama orang. Hihihi…
Apapun pilihannya, tetaplah kita
saling mendukung satu sama lain, tetaplah saling mencerahkan satu sama lain.
Dan tetaplah UPGRADE diri sebagai ibu. Lahirkan versi yang lebih baik pada anak kita karena anak adalah
investasi dunia akhirat.
#selfreminder #ODOPday2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar