Rabu, 06 April 2011

Kenyamanan Milik Kita Bersama

Selama perjalanan tadi berangkat ke kantor..berkeliaran banyak hal di pikiran saya. Tentunya tentang apa yang ingin saya tulis. Hmmmm...yang masih keingetan ampe sekarang ya soal Jakarta. Kurang lebih hampir 4 minggu saya sudah berteman akrab dengan kemacetan Jakarta. Tidak terbayangkan kalau saya terus berteman dengan kemacetan. Akan timbul multiple effect terhadap saya. (alaahh..lebay.com)
Sejak pagi di Jakarta telah terjadi pemborosan. Bayangkan saja berapa banyak liter bahan bakar minyak kendaraan yang dihabiskan ketika macet. Ada yang berependapat, "ya dimatiin aja mesinnya..." tanggapan saya... "ooh..yeah...(nada nyolot..hehe). Walaupun saya tidak begitu mengerti dengan otomotif,tapi sepertinya baha bakar yang diperlukan untukl starting mesin lebih banyak deh...lagian di Jakarta ini berdasarkan hasil pengamatan saya, ada ruang sedikit untuk maju ya kendaraan tersebut harus maju. Kalau Anda berpikiran untuk menunngu jarak yang sedikit lebih jauh sebelum Anda mencoba untuk maju...bersiap saja untuk mendengar bunyi klakson dan umpatan pengemudi di belakang Anda akan riang berbunyi. Ya jadinya perjalanan Anda dalam kemacetan menjadi...Maju-berenti-maju-berenti...Ya kurang lebih seperti itu.
Kemudian saya mecoba untuk menanggapi fenomena kemudahan kredit motor. Sekarang dengan DP (Down Payment) 500an sudah bisa membawa pulang sebuah sepeda motor. Namun, bukankah hal tersebut menjebak orang untuk menjadi Gharimin?? Ketika kredit motor diberikan kepada orang yang tidak memiliki capability untuk mengkredit. Kan kredit juga perlu dicicil. Kalo tidak mampu, Nah lho...bayar dari mana??? Selain itu mewabahnya kredit motor berdampak pada jumlah motor yang jumlahnya berkali lipat lebih banyak. Saya melihat bahwa kemacetan bukan hanya ditimbulkan oleh sederetan kendaraan beroda empat atau lebih, melainkan motor yang berjejal di sepanjang jalan memiliki andil yang besar timbulnya kemacetan.
Saya mengapresiasi hadirnya kendaraan umum yang disediakan oleh Pemda Jakarta yaitu busway, walaupun untuk menuju kantor saya tidak menggunakan busway melainkan angkot. Pengendara mobil pribadi seringkali berkilah bahwa alasan untuk menggunakan mobilnya adalah agar nyaman walaupun berada dalam kemacetan (Lantaran ada ACnya kali ya, apa hanya sekedar lifestyle saja???). Menurut saya, transjakarta memberikan kenyamanan, akan teapi memang ketika pagi dan sore hati dimana merupakan jadwalnya orang-orang pergi dan pulang kantor, busway menjadi sesak. Akan tetapi, apabila para pemilik kendaraan pribadi ikhlas untuk tidak menggunakan kendaraan pribadinya, bisa saja armada transjakarta kemudian ditambah. Sekarang apabila jumlah armada dan koridor ditambah dengan asumsi pengguna jalan raya tidak berubah maka ruang gerak pengendara mobil akan semakin sempit, dan kemacetan semakin menjadi. Saya membayangkan apabila Jakarta seperrti negara eropa dimana kendaraan pribadi digunakan untuk rekreasi bukan untuk kegiatan rutin seperti berangkat bekerja. Menurut saya, peraturan mengenai kendaraan umum yang layak untuk beroperasi harus diperketat, dan kesadaran dari semua elemen masyarakat mengenai kemacetan harus menjadi concern bersama, bukan hanya membebankan kepada Pemerintah saja.
Mari kita ciptakan kenyamanan di jalan. Jangan jadikan kita menjadi cepat tua hanya karena kemacetan yang terlalu akrab dengan kita!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar