Minggu, 10 April 2011

Sayang Bapa

Ujang Suryadi, lahir di Sukabumi tanggal 7 September 1950. Usianya saat ini sudah lebih dari 63 tahun. Beliau adalah bapa saya. Kami memiliki banyak kesamaan karakter, pemikiran dan sepertinya lebih banyak perbedaan di antara kami. Buktinya, kami jarang sekali sepakat dalam suatu hal, kalaupun sepakat pastinya tidak luput dari debat dan diskusi panjang. Banyak hal yang bisa dijadikan panutan darinya. Beliau sangat concern dengan yang namanya pendidikan. Beliau sering mendampingi sekaligus mengawasi saya belajar. Saya ingat ketika beliau mengajari saya  hitungan pembagian di muka pintu rumah sore itu, kemudian program wajib belajar selama siaran "Dunia dalam Berita" sewaktu SD dulu. Karena saya belajar di dekat ruang tv, sementara bapa saya menonton berita, saya curi-curi kesempatan untuk menyimak berita juga. Pada saat menginjak SMP dan SMA, saya harus belajar di kamar, padahal tak jarang saya di kamar untuk main hand phone atau mendengarkan walkman. Ketika akhirnya terbongkar bahwa saya malah asik sms-an, ketika saya keluar dari kamar untuk pergi ke kamar mandi, setibanya di kamar hand phone saya hilang dan ternyata disembunyikan oleh bapa saya. Saya mencoba bernegosiasi dengan mama saya agar memberi tahu dimana hp saya disimpan. hehehe. Bentuk persekongkolan dengan mama saya. Lucu dan sekaligus geli mengingatnya. 

Saya sadar, tegasnya bapa saya dalam mendampingi saya belajar adalah untuk kebaikan saya. Dari sejak SD, saya sudah terbiasa untuk belajar pada pagi hari, bangun jam 3 pagi kemudian sholat tahajud dan mengulang yang sudah saya pelajari tadi malam. Karena ketika saya memaksakan untuk belajar sampai dengan larut malam, yang ada kepala saya pening. Dan metode ini memang terbukti efektif. Saya juga diajari oleh bapa saya untuk mencatat dalam catatan ringkas mengenai hal yang telah saya baca. Menurut bapa saya, membaca belum tentu paham, tetapi ketika mampu menuliskannya, paling tidak kita mengingat dan bagusnya lagi adalah paham akan hal yang dipelajari.

Masih seputar dengan pendidikan, ada kalimat bapa yang masih saya ingat sampai saat ini. Ketika itu, saya bingung antara memilih masuk jurusan agribisnis atau gizi masyarakat. Keduanya jurusan favorit di IPB. Dengan sistem yang berlaku saat itu di IPB, apabila kita memilih satu jurusan pada urutan pertama dan apabila tidak diterima pada jurusan tersebut, maka kita bisa terlempar ke jurusan yang kita tempatkan pada urutan ke sekian. Maka dari itu, diperlukan stratagi dimana tidak mungkin menempatkan kedua jurusan yang saya minati pada urutan yang berdekatan. Dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih agribisnis. Saya berkonsultasi dulu dengan bapa saya. Saya merasa bersalah karena saya pernah gagal masuk UN*IP untu k masuk kedokteran, dan sebenarnya agribisnis pun masih asing bagi saya. Namun pada saat itu, bapa saya berujar,
"Kalo jadi dokter, penghasilannya linear. Kalo nambah 1 pasien, ya penghasilannya nambah 1 juga. Tapi beda kalo jadi pengusaha, penghasilannya eksponensial, bisa jadi gede banget, bisa jadi kecil banget.
Sekarang saya paham akan kalimat sederhana itu, menjadi pengusaha berbeda dengan pegawai. Pengusaha berhadapan dengan risiko dan  peluang. Risiko bisa mengecilkan penghasilan dan peluang bisa sebaliknya menjadi pembesar penghasilan. 

Banyak hal yang bisa saya jadikan panutan dari beliau, namun kami seringkali berselisih paham. Ingin rasanya saya ungkapkan bahwa diri ini sayang pada beliau, namun rasanya seakan kelu di lidah. "Pa, uji sayang bapa."

"Ya Allah, ampunilah dosaku,dan dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.Amiin."
-sayangmamabapa-